Seperti Mati Lampu, Ketika Listrik Padam, Kepercayaan Publik Jangan Ikut Padam, Oleh : Helmi Rifai SH, Pemimpin Umum Media Online Kalseltenginfo.Com

oleh -70 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Ada satu kesamaan yang selalu muncul setiap kali listrik padam. Bukan hanya rumah yang gelap, tetapi juga muncul kegelisahan, pertanyaan, bahkan kemarahan.

Aktivitas berhenti, usaha terganggu, komunikasi tersendat. Dalam hitungan menit, masyarakat menyadari bahwa listrik bukan lagi sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan pokok yang menopang hampir seluruh aspek kehidupan.

Pemadaman bergilir yang terjadi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah beberapa hari terakhir menjadi contoh nyata bagaimana gangguan kelistrikan dapat menimbulkan efek domino.

Pasar melambat, UMKM kehilangan pendapatan, makanan di lemari pendingin terancam rusak, pelayanan publik ikut terganggu, hingga aktivitas masyarakat menjadi tidak menentu.

PLN menjelaskan bahwa gangguan terjadi akibat kerusakan sejumlah pembangkit, baik milik PLN maupun swasta, sehingga sistem interkoneksi Kalimantan mengalami kekurangan pasokan daya.

Gangguan itu bahkan merambat hingga Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Penjelasan teknis tentu diperlukan, tetapi bagi masyarakat, yang paling penting adalah kepastian, kapan listrik kembali menyala dan mengapa hal ini bisa terjadi.

Dalam setiap krisis pelayanan publik, informasi memiliki nilai yang sama pentingnya dengan solusi. Ketika masyarakat tidak memperoleh penjelasan yang utuh, ruang kosong itu segera diisi oleh spekulasi. Rumor berkembang lebih cepat daripada klarifikasi. Bisa jadi kepercayaan pun mulai meredup.

Kritik yang disampaikan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kalimantan Selatan menjadi cermin bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan listrik, tetapi juga komunikasi yang jujur, cepat, dan transparan.

Jadwal pemadaman, penyebab gangguan, progres perbaikan, hingga estimasi normalisasi harus disampaikan secara terbuka. Informasi yang jelas akan membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas dan mengurangi keresahan.

PLN memang telah menyatakan akan memberikan kompensasi berupa pengurangan tagihan listrik sesuai ketentuan. Kebijakan itu merupakan bentuk tanggung jawab kepada pelanggan.

Namun, kompensasi tidak selalu mampu mengganti kerugian nyata yang dialami masyarakat. Omzet pedagang yang hilang, produksi yang terhenti, layanan yang tertunda, hingga peluang ekonomi yang lenyap tidak dapat sepenuhnya dihitung dari besaran potongan tagihan.

Peristiwa ini juga menjadi alarm bahwa sistem kelistrikan harus terus diperkuat. Ketahanan energi tidak cukup diukur dari besarnya kapasitas pembangkit, tetapi juga dari keandalan sistem menghadapi gangguan. Infrastruktur yang modern, pembangkit cadangan yang memadai, pemeliharaan yang konsisten, dan perencanaan jangka panjang menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda, terlebih Kalimantan kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Judul tulisan ini, “Seperti Mati Lampu”, sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang padamnya aliran listrik. Ia juga menjadi metafora tentang sesuatu yang lebih berbahaya, padamnya kepercayaan publik. Lampu yang mati dapat dinyalakan kembali dalam hitungan jam. Tetapi kepercayaan yang redup membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dipulihkan.

Pelayanan publik selalu diuji ketika menghadapi krisis. Bukan semata-mata pada kemampuan memperbaiki kerusakan teknis, melainkan pada kesanggupan menghadirkan kepastian, keterbukaan, dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat.

Sebab, dalam kehidupan modern, masyarakat mungkin masih bisa memaklumi listrik yang sesekali padam. Namun, mereka tidak ingin melihat pelayanan publik ikut “seperti mati lampu” gelap arah, minim informasi, dan kehilangan kepercayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.