Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Pagi itu, halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin belum benar-benar lengang. Sisa-sisa gema takbir seperti masih berpendar di udara, menyatu dengan wajah-wajah yang pulang dari salat Id, membawa ketenangan sekaligus harapan.
Namun, perjalanan Lebaran kami hari itu tidak berhenti di sana.
Langkah Kami berlanjut ke Mahligai Pancasila. Di tempat inilah, kami menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar tradisi tahunan. Kami sendiri menyaksikan bagaimana kekuasaan bisa berubah wajah menjadi hangat, menjadi dekat, menjadi manusiawi.
Di sana, berdiri sosok yang akrab disapa “Pahaji”, Muhidin. Di sampingnya, Wakil Gubernur Hasnuryadi Sulaiman, dan Sekretaris Daerah Provinsi Muhammad Syarifuddin. Tiga figur ini kerap disebut sebagai “tiga serangkai”. Bukan sekadar istilah, tetapi refleksi dari keselarasan yang tampak nyata.
Kami di pojok ruangan memperhatikan bagaimana mereka menyambut setiap orang yang datang. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak yang diciptakan oleh jabatan. Tangan-tangan mereka terbuka, senyum mereka tulus, dan waktu mereka, hari itu lebaran sepenuhnya milik rakyat.
Sebagai pimpinan media, saya terbiasa melihat pejabat dalam forum resmi: dengan protokol ketat, bahasa formal, dan batas yang jelas antara pemimpin dan yang dipimpin. Namun di hari itu, semua batas itu seolah dilebur.
Open house atau gelar griya yang mereka lakukan bukan sekadar agenda seremonial. Momen ini menjelma menjadi ruang komunikasi yang jujur. Di Mahligai Pancasila Inilah makna terdalam dari tradisi itu terasa silaturahmi yang tidak membutuhkan undangan, kedekatan yang tidak dibatasi status.
Kami memang melihat masyarakat datang dari berbagai latar. Ada pejabat, ada tokoh agama, ada warga biasa. Semua berdiri pada garis yang sama menjadi tamu, sekaligus bagian dari keluarga besar Banua.
Di tengah situasi sosial yang kerap dibatasi oleh sekat-sekat tak kasat mata, apa yang dilakukan “Pahaji” dan dua rekannya menjadi penegasan penting bahwa pemimpin sejatinya adalah milik rakyat, dan harus selalu bisa dijangka, —bukan hanya saat dibutuhkan, tetapi juga saat dirindukan.
Open house dalam konteks ini bukan lagi soal tradisi lama yang diwariskan sejak masa lampau. Ia berkembang menjadi simbol keterbukaan sosial-politik. Sebuah pesan bahwa kekuasaan tidak harus berjarak, dan jabatan tidak harus menciptakan dinding.
Bahkan, dalam kesederhanaannya, Kami pun menangkap pesan lain tentang empati. Tidak ada kemewahan berlebihan yang ditonjolkan. Yang ada justru kesederhanaan yang terasa tulus. Sebuah upaya menjaga rasa, bahwa di luar sana, masyarakat juga sedang berjuang dalam dinamika ekonomi yang tidak selalu mudah.
Di situlah letak kekuatan sebenarnya.
Kebersamaan yang ditunjukkan oleh Muhidin, Hasnuryadi, dan Syarifuddin bukan hanya soal kekompakan elite pemerintahan. Ia adalah fondasi kepercayaan. Dan kepercayaan, dalam dunia kepemimpinan, tidak dibangun dari pidato melainkan dari kehadiran.
Tak heran jika mereka menjadi pemimpin yang dirindukan. Bukan hanya dalam rutinitas hari kerja, tetapi juga dalam momen paling personal seperti Lebaran.
Hari itu, Kami pun pulang dengan satu kesimpulan sederhana, bahwa ketika pemimpin membuka pintu rumahnya, sejatinya ia sedang membuka ruang di hati rakyatnya.





