Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Enam puluh dua tahun bukan usia yang singkat bagi sebuah bank daerah. Usia ini adalah rentang waktu yang cukup untuk menguji komitmen, mengasah ketahanan, sekaligus menakar arah. Dalam konteks ini, Bank Kalsel tidak hanya bicara soal angka, aset, atau pertumbuhan bisnis—tetapi tentang keberpihakan. Pertanyaan mendasarnya sederhana, namun penting: untuk siapa Bank Kalsel hadir, dan hendak ke mana ia melangkah?
Sebagai pimpinan media yang setiap hari bersentuhan dengan denyut informasi publik, saya melihat Bank Kalsel bukan sekadar institusi keuangan. Tetapi lembaga keuangan ini adalah wajah dari bagaimana negara melalui daerah hadir di tengah masyarakat. Ia menjadi perantara antara kebijakan dan kebutuhan rakyat. Di titik ini, fungsi Bank Kalsel melampaui peran komersial.
Bank Kalsel selama ini dikenal dekat dengan “Urang Banua”. Kedekatan itu bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang dirasakan. Dari pembiayaan UMKM, penyaluran kredit rakyat, hingga layanan yang menjangkau pelosok, bank ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kalimantan Selatan.
Namun, kedekatan saja tidak cukup. Dunia berubah cepat. Lanskap perbankan hari ini dipenuhi tantangan baru,digitalisasi, persaingan dengan bank nasional, hingga penetrasi teknologi finansial. Dalam situasi ini, Bank Kalsel tidak bisa hanya mengandalkan romantisme masa lalu.
Di usia ke-62, saya melihat ada dorongan kuat untuk naik kelas menjadi bank devisa. Ini adalah langkah besar. Tapi pertanyaannya: apakah langkah ini akan membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, atau justru menjauhkan bank dari akar sosialnya?
Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan. Bank Kalsel harus tetap menjadi milik masyarakat daerah, sekaligus mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Jangan sampai transformasi hanya berorientasi pada ekspansi bisnis, tetapi melupakan misi awal sebagai penggerak ekonomi lokal.
Sebagai media, kami sering menerima cerita dari pelaku usaha kecil pedagang, petani, hingga perajin yang menggantungkan harapan pada akses pembiayaan. Bagi mereka, Bank Kalsel bukan sekadar bank, tetapi pintu harapan. Jika pintu itu tertutup atau semakin sulit diakses, maka yang hilang bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga kepercayaan.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa transformasi adalah keniscayaan. Digitalisasi layanan, peningkatan kualitas tata kelola, hingga ekspansi ke pasar yang lebih luas adalah bagian dari tuntutan zaman. Bank Kalsel harus berani melangkah ke depan.
Namun, arah itu harus jelas. Menjadi bank devisa bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk memperbesar manfaat. Pertumbuhan harus berbanding lurus dengan keberpihakan. Modernisasi harus berjalan seiring dengan inklusi.
Dalam perspektif saya, masa depan Bank Kalsel akan ditentukan oleh satu hal: konsistensi menjaga identitas. Ia boleh tumbuh besar, tetapi jangan kehilangan jati diri sebagai bank yang lahir dari dan untuk masyarakat Banua.
Enam puluh dua tahun adalah momentum refleksi. Bukan hanya merayakan capaian, tetapi juga menata arah. Bank Kalsel harus menjawab dengan tegas dan tegas saja, untuk siapa ia bekerja, dan ke mana ia melangkah.
Jika jawabannya tetap untuk masyarakat, maka ke mana pun arah yang dituju, Bank Kalsel akan selalu menemukan jalannya. Selamat Ulang Tahun Bank Kalsel.





