Ramadan Wisata ke Mana ?, Catatan Helmi Rifai tentang Momentum yang Sering Disia-siakan

oleh -41 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ritme kota melambat di siang hari, lalu menggeliat menjelang senja. Jalanan dipenuhi aroma kuliner berbuka. Masjid-masjid hidup hingga larut malam. Keluarga berkumpul. Komunitas bergerak. Konsumsi meningkat. Mobilitas bertambah.

Namun dalam pandangan Helmi Rifai, Pimpinan Umum Kalseltenginfo.com, banyak daerah masih keliru membaca Ramadan.

“Ramadan bukan low season pariwisata. Ia hanya berubah pola. Kalau pola ini tidak dipahami, maka momentum akan lewat begitu saja,” ujarnya.

Ramadan bukan musim sepi. Ia hanya musim yang berbeda.

Wisatawan tidak berhenti bepergian. Mereka hanya bergeser motivasi. Mereka mencari ketenangan, bukan hingar-bingar. Mereka mencari pengalaman spiritual, bukan sekadar hiburan. Mereka ingin suasana, bukan sekadar destinasi.

Di sinilah banyak daerah gagal membaca pasar.

Sebagian tetap mempromosikan wahana ekstrem, konser besar, atau festival tanpa konteks. Padahal Ramadan memiliki karakter sendiri, lebih reflektif, lebih keluarga, lebih religius, lebih intim.

Helmi melihat Ramadan sebagai panggung yang seharusnya dimanfaatkan secara strategis. Ada tiga hal yang menurutnya harus dipahami.

Pertama, yang dijual bukan sekadar tempat, tetapi atmosfer. Kota yang mampu menghadirkan suasana Ramadan yang kuat akan lebih diingat dibanding kota yang hanya menawarkan spot foto. Lihat bagaimana Yogyakarta memancarkan nuansa budaya dan kuliner ngabuburit yang khas. Orang datang bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk merasakan.

Kedua, identitas harus ditegaskan. Banda Aceh konsisten dengan citra religi dan sejarah Islamnya. Padang memaksimalkan kekuatan gastronomi Minang sebagai magnet berbuka puasa. Mereka tidak mengubah karakter kota, hanya menguatkannya dalam konteks Ramadan.

Ketiga, ekonomi lokal harus menjadi aktor utama. Ramadan adalah momentum UMKM. Bazar, pasar wadai, festival kuliner, produk halal, ekonomi kreatif,semua harus terhubung dalam satu narasi besar. Daerah seperti Banyuwangi membuktikan bahwa konsistensi branding dan pengemasan event musiman mampu meningkatkan reputasi sekaligus ekonomi lokal.

Dalam refleksinya, Helmi menilai bahwa problem terbesar bukan pada kurangnya potensi, tetapi pada lemahnya strategi. Banyak daerah bergerak tanpa kalender event yang jelas. Promosi dilakukan mendadak. Narasi tidak terbangun. Kolaborasi minim.

Padahal Ramadan adalah musim kepercayaan.

Ia bukan ruang komersialisasi berlebihan. Ia adalah ruang yang harus dijaga sensitivitasnya. Aktivitas wisata harus tetap menghormati nilai ibadah. Justru di situlah kekuatannya: harmoni antara spiritualitas dan ekonomi.

Menurut Helmi, wilayah Kalimantan memiliki peluang besar membaca momentum ini. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, misalnya, memiliki kekayaan budaya sungai, tradisi pasar wadai, serta kearifan lokal yang sangat kuat. Jika dikemas sebagai pengalaman Ramadan yang autentik, daya tariknya tidak kalah dari daerah lain di Indonesia.

“Ramadan bisa menjadi pintu masuk membangun citra wisata halal dan wisata keluarga. Tinggal bagaimana dikemas secara serius dan konsisten,” katanya.

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana: Ramadan wisata ke mana?

Jawabannya bukan semata di tangan wisatawan, tetapi di tangan pemerintah daerah dan pelaku industri. Apakah mereka siap membaca perubahan perilaku? Apakah mereka punya agenda terstruktur? Apakah mereka berani membangun branding tematik? Apakah mereka mampu mengintegrasikan masjid, komunitas, hotel, UMKM, dan ruang publik dalam satu ekosistem?

Ramadan adalah momentum reputasi. Ia datang setahun sekali. Daerah yang cerdas menjadikannya batu loncatan. Daerah yang lalai membiarkannya berlalu sebagai rutinitas.

Dalam dunia pariwisata modern, momentum adalah segalanya. Dan Ramadan, sesungguhnya, adalah musim strategi yang sering disia-siakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.