Menjaga Indonesia dari Puncak Gunung

oleh -63 views

Kalseltenginfo.com, Lembang – Indonesia dikenal dunia bukan hanya karena laut dan pantainya, tetapi juga karena bentang pegunungan yang membentang dari Sabang hingga Merauke.

Gunung-gunung Indonesia menjadi magnet bagi jutaan wisatawan, pendaki, peneliti, hingga pecinta alam. Namun di balik keindahan itu, tersimpan tanggung jawab besar yang sering luput dari perhatian publik: keselamatan.

Keselamatan adalah fondasi utama yang menentukan kualitas sebuah destinasi wisata alam. Tanpa sistem yang baik, keindahan alam justru dapat berubah menjadi risiko.

Karena itulah para praktisi wisata gunung, instruktur keselamatan, organisasi profesi, dan lembaga pelatihan berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) Pra Standardisasi Kompetensi Teknis Kepemanduan Wisata Gunung yang berlangsung pada 29–30 Mei 2026, di Cikole, Lembang,Jawa Barat.

Forum tersebut menjadi momentum penting dalam upaya membangun standar kompetensi nasional bagi para pelaku kepemanduan wisata gunung Indonesia.

Berbeda dengan berbagai forum formal yang biasanya berlangsung di ruang rapat berpendingin udara, diskusi ini dilaksanakan di alam terbuka.

Para peserta memilih kembali ke habitat profesinya, tempat di mana berbagai tantangan, risiko, dan pengalaman lapangan benar-benar terjadi.

Di bawah tenda sederhana, para peserta berdiskusi hingga malam hari. Mereka membahas berbagai aspek penting yang menjadi inti keselamatan kegiatan alam terbuka, mulai dari kemampuan survival, navigasi darat, pertolongan pertama gawat darurat (PPGD), vertical rescue, manajemen risiko, hingga standar keselamatan dan kesehatan kerja bagi para pelaku wisata alam.

Bagi mereka, keselamatan bukan sekadar prosedur administratif atau persyaratan sertifikasi. Keselamatan adalah tentang melindungi manusia.

Moderator Eva Krista H. memandu jalannya diskusi yang berlangsung dinamis. Berbagai pengalaman lapangan dibagikan secara terbuka, mulai dari keberhasilan penanganan keadaan darurat hingga evaluasi terhadap berbagai insiden yang pernah terjadi di kawasan pegunungan Indonesia.

Sementara itu, narasumber Alfina Mukamar menegaskan Indonesia membutuhkan sistem keselamatan yang dibangun melalui standar kompetensi yang jelas, terukur, dan dapat diterapkan di lapangan.

“Wisata alam Indonesia terus berkembang. Karena itu, kualitas sumber daya manusia harus berkembang lebih cepat. Standar kompetensi menjadi instrumen penting untuk memastikan setiap wisatawan mendapatkan pelayanan yang aman, profesional, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan tantangan yang sedang dihadapi sektor wisata alam Indonesia saat ini. Minat masyarakat terhadap pendakian gunung terus meningkat setiap tahun. Aktivitas wisata petualangan tumbuh pesat, membuka peluang ekonomi yang besar bagi masyarakat sekitar kawasan wisata.

Namun pertumbuhan tersebut juga menghadirkan konsekuensi baru. Semakin banyak aktivitas di alam terbuka berarti semakin tinggi pula kebutuhan terhadap pemandu yang memiliki kemampuan teknis, keterampilan penyelamatan, serta pemahaman mendalam tentang manajemen risiko.

Karena itulah forum ini tidak sekadar membahas profesi kepemanduan. Forum ini sesungguhnya sedang membicarakan masa depan keselamatan publik.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah organisasi menyatakan dukungan terhadap upaya penyusunan standar kompetensi nasional kepemanduan wisata gunung. Kesepakatan bersama kemudian diserahkan kepada Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi sebagai bagian dari proses penguatan standar profesi di Indonesia.

Lembaga yang terlibat dalam kesepakatan tersebut antara lain. Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) yang diwakili M. Novriza, 3S Management yang diwakili Rafael, LPK Elang Khatulistiwa Indonesia yang diwakili Achmad Dumiyati.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan tidak dapat dibangun oleh satu organisasi saja. Dibutuhkan sinergi, kepercayaan, dan kesamaan visi dari seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan sistem yang kuat dan berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, upaya ini sesungguhnya merupakan bagian dari pembangunan bangsa. Sebab reputasi sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam yang dimilikinya, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga keselamatan setiap orang yang datang menikmati keindahan tersebut.

Ketika seorang wisatawan merasa aman saat mendaki gunung di Indonesia, yang sedang dibangun bukan hanya pengalaman perjalanan yang baik. Yang sedang dibangun adalah kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

Karena itu, penyusunan standar kompetensi kepemanduan wisata gunung bukan sekadar agenda profesi. Ia merupakan investasi jangka panjang bagi pariwisata nasional, perlindungan masyarakat, dan citra Indonesia di mata internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.