Alhamdulillah Rupiah Stabil di Tengah Dinamika Global

oleh -727 views

Kalseltenginfo.com, Jakarta – Nilai tukar Rupiah menunjukkan stabilitas di tengah dinamika perekonomian global dan domestik pada pekan ketiga Desember 2025. Bank Indonesia (BI) mencatat Rupiah ditutup pada level Rp16.710 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (18/12) dan kembali dibuka pada level yang sama pada Jumat (19/12), mencerminkan ketahanan nilai tukar di tengah penguatan dolar AS.

Penguatan dolar AS tercermin dari Indeks Dolar (DXY) yang naik ke level 98,43. Namun, tekanan global tersebut relatif tertahan oleh penurunan imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun ke level 4,122 persen, yang turut meredam volatilitas di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Di pasar domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun justru melanjutkan tren penurunan ke level 6,14 persen pada akhir perdagangan Kamis, dan kembali turun ke 6,12 persen pada Jumat pagi,” terang Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Bank Indonesia, dalam siaran persnya, Jumat (19/12/2025).

Penurunan yield SBN ini menurutnya mengindikasikan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional, sekaligus mencerminkan persepsi risiko yang relatif terkendali.

Indikator risiko Indonesia juga menunjukkan perbaikan. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun tercatat turun menjadi 69,80 basis poin per 18 Desember 2025, lebih rendah dibandingkan posisi 71,22 basis poin pada sepekan sebelumnya. Penurunan CDS tersebut mencerminkan persepsi risiko kredit Indonesia yang semakin membaik di mata investor global.

Dari sisi aliran modal asing, data transaksi pada periode 15–18 Desember 2025 mencatat nonresiden membukukan beli neto sebesar Rp0,24 triliun. Aliran masuk tersebut terutama berasal dari pasar saham dengan beli neto Rp0,60 triliun serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp0,26 triliun, meskipun masih terdapat jual neto Rp0,62 triliun di pasar SBN. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor asing ke instrumen berisiko dan instrumen moneter jangka pendek.

Namun secara kumulatif sepanjang tahun 2025 hingga 18 Desember, nonresiden masih mencatatkan jual neto yang cukup signifikan, masing-masing sebesar Rp25,04 triliun di pasar saham, Rp2,00 triliun di pasar SBN, dan Rp112,39 triliun di SRBI. Tren ini mencerminkan kehati-hatian investor global dalam merespons ketidakpastian ekonomi global, terutama terkait arah kebijakan moneter negara maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.