Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Hampir satu tahun sudah Kalimantan Selatan berada di bawah kepemimpinan Muhidin–Hasnur. Dalam kurun waktu yang relatif singkat itu, publik tentu mulai bertanya, sudah sejauh mana arah pembangunan Kalsel bergerak? Apa yang sudah dicapai, dan tantangan apa yang masih menghadang?
Sebagai jurnalis yang sehari-hari menyaksikan denyut kehidupan masyarakat, saya melihat satu hal yang cukup menonjol dari pemerintahan ini, yakni upaya membangun dengan pendekatan merangkul, bukan memisahkan. Sebuah semangat yang dirangkum dalam jargon “Bekerja Bersama, Merangkul Semua.”
Pada tahun pertama, pemerintahan Muhidin–Hasnur tampaknya lebih memilih menata fondasi ketimbang gegap gempita program simbolik. Stabilitas pemerintahan daerah, kesinambungan program strategis, serta penguatan koordinasi dengan kabupaten/kota menjadi langkah awal yang cukup terasa.
Beberapa capaian patut dicatat. Pembangunan infrastruktur dasar terutama jalan penghubung antarwilayah, perbaikan akses kawasan produksi, dan dukungan terhadap sentra ekonomi rakyat,mulai menunjukkan arah yang jelas.
Di sisi lain, penguatan sektor UMKM melalui fasilitasi pembiayaan, promosi produk lokal, hingga dorongan digitalisasi perlahan memberi napas baru bagi pelaku usaha kecil.
Tidak kalah penting, sektor pelayanan publik mulai diarahkan agar lebih adaptif dan responsif. Meski belum sempurna, upaya penyederhanaan layanan dan peningkatan kualitas aparatur menjadi sinyal positif bahwa birokrasi tidak boleh lagi berjalan di tempat.
Tahun 2025 bukan tahun yang mudah. Tantangan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, ancaman inflasi, hingga dampak perubahan iklim menjadi ujian nyata bagi daerah seperti Kalimantan Selatan yang masih bergantung pada sektor primer.
Strategi yang ditempuh pemerintah daerah terlihat cukup realistis. Diversifikasi ekonomi mulai didorong tidak lagi hanya bertumpu pada tambang dan perkebunan, tetapi juga pada pariwisata, ekonomi kreatif, serta industri pengolahan. Langkah ini penting agar Kalsel tidak terus menjadi penonton dalam rantai nilai ekonomi.
Selain itu, penguatan kolaborasi dengan dunia usaha, perbankan, dan komunitas lokal menjadi kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dan sejauh ini, semangat membuka ruang dialog dengan berbagai pihak menjadi nilai tambah pemerintahan Muhidin–Hasnur.
“Bekerja Bersama, Merangkul Semua”, Dampak Nyata bagi Ekonomi Rakyat
Slogan sering kali terdengar indah, tetapi maknanya teruji saat dirasakan masyarakat. Program Bekerja Bersama, Merangkul Semua mulai memberi dampak positif, terutama dalam inklusivitas pembangunan.
Kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggir seperti petani kecil, nelayan, pelaku UMKM desa, hingga komunitas adat pun perlahan mulai dilibatkan dalam proses pembangunan. Bantuan tidak lagi semata bersifat karitatif, tetapi diarahkan pada penguatan kapasitas ekonomi, seperti akses modal, pendampingan usaha, dan pembukaan pasar.
Meski belum merata, arah kebijakan ini memberi harapan bahwa pembangunan Kalsel ke depan tidak hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga pemerataan manfaat.Semoga dua pimpinan kita ini konsisten menjaga ritme program yang dimainkan untuk kepentingan Urang Banua.
Menatap 2026: Apa yang Perlu Diperkuat ?
Memasuki tahun 2026, ada beberapa hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian serius.
Pertama, konsistensi dan keberanian mengambil keputusan strategis. Fondasi sudah dibangun, kini saatnya mempercepat langkah dengan kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kedua, penguatan kualitas sumber daya manusia. Investasi di bidang pendidikan, vokasi, dan keterampilan kerja harus menjadi prioritas agar generasi muda Kalsel mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi.
Ketiga, transparansi dan komunikasi publik. Pemerintah perlu terus hadir menjelaskan apa yang dikerjakan, mengapa dilakukan, dan apa manfaatnya bagi rakyat. Kepercayaan publik tumbuh dari keterbukaan.
Satu tahun pemerintahan Muhidin–Hasnur adalah awal perjalanan, bukan garis akhir. Ada capaian yang patut diapresiasi, ada pula pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Namun satu hal yang penting, arah sudah ditetapkan, dan semangat merangkul semua elemen masyarakat menjadi modal sosial yang berharga.Ini catatan pentingnya.
Pembangunan bukan tentang siapa yang paling cepat berlari, tetapi siapa yang mampu mengajak semua berjalan bersama. Dan di situlah harapan Kalimantan Selatan bertumpu hari ini, dan di tahun-tahun yang akan datang.





