Piala Dunia, Nostalgia yang Tak Pernah Tua, Oleh : Helmi Rifai, Pimpinan Umum Kalseltenginfo.com

oleh -22 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Piala Dunia selalu punya cara unik untuk membuat kita kembali menjadi anak-anak.

Ketika peluit pertama dibunyikan, ketika lagu kebangsaan berkumandang, ketika bola mulai bergulir di atas rumput hijau stadion, seolah waktu berhenti sejenak. Kita kembali mengenang masa-masa ketika begadang menjadi aktivitas paling menyenangkan. Saat televisi di ruang keluarga menjadi pusat perhatian. Saat nama-nama legenda sepak bola menjadi bahan obrolan di sekolah, kampus, kantor, hingga warung kopi.

Piala Dunia 2026 yang berlangsung mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026 menghadirkan sejarah baru. Turnamen terbesar sepanjang sejarah sepak bola dunia ini menampilkan 48 negara peserta dengan total 104 pertandingan yang digelar di tiga negara sekaligus: Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Bagi masyarakat Indonesia, kemeriahan itu terasa semakin dekat karena pertandingan pembukaan disiarkan langsung oleh TVRI. Televisi yang dahulu menemani generasi 1980-an dan 1990-an menikmati berbagai peristiwa besar dunia kini kembali menghadirkan momen bersejarah kepada publik Indonesia.

Bagi saya pribadi, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola, tetapi menjadi ruang nostalgia.

Saya masih mengingat bagaimana dahulu masyarakat berbondong-bondong mencari informasi hasil pertandingan melalui koran pagi. Tidak ada media sosial, tidak ada notifikasi telepon pintar. Semua terasa sederhana, tetapi justru menghadirkan kesan yang begitu mendalam.

Kini teknologi memang berubah. Kita bisa mengetahui hasil pertandingan dalam hitungan detik. Namun satu hal yang tidak berubah adalah rasa antusias masyarakat ketika Piala Dunia hadir.

Di Banjarmasin, suasana itu terasa begitu hidup.

Warung kopi, kafe, hingga ruang-ruang publik berubah menjadi tempat berkumpul. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa duduk semeja hanya karena memiliki tim favorit yang sama. Ada yang mengenakan jersey Argentina, Brasil, Jerman, Prancis, hingga Inggris. Mereka tertawa bersama, berdebat ringan, lalu bersorak ketika gol tercipta.

Inilah kekuatan olahraga, dapat menyatukan banyak perbedaan dalam satu kegembiraan yang sama.

Namun jika dicermati lebih jauh, Piala Dunia ternyata tidak hanya menghadirkan euforia olahraga. Di balik sorak sorai suporter, terdapat pergerakan ekonomi yang sangat menarik.

Banyak pelaku UMKM memperoleh manfaat dari momentum empat tahunan ini.

Penjual makanan dan minuman mengalami peningkatan penjualan. Pemilik kafe menyiapkan paket khusus nobar. Pedagang atribut sepak bola mendapatkan lebih banyak pembeli. Bahkan usaha percetakan kaos dan spanduk turut merasakan dampaknya.

Ekonomi bergerak karena masyarakat berkumpul.Uang berputar karena orang ingin menikmati pengalaman bersama.

Di Banjarmasin sendiri, sejumlah lokasi menjadi pilihan favorit untuk menikmati pertandingan secara kolektif. Beberapa di antaranya adalah Kopi Arasta yang menyediakan berbagai promo kopi dan makanan ringan selama pertandingan berlangsung. Kemudian Artikulasi Coffee yang rutin menghadirkan suasana nobar dengan komunitas sepak bola lokal.

Selain itu, TVRI juga mendukung semarak Piala Dunia melalui kegiatan nobar di berbagai titik publik dan lokasi yang memiliki lisensi resmi. Kehadiran fasilitas ini membuat masyarakat dapat menikmati pertandingan dengan suasana yang lebih meriah.

Bagi yang ingin merasakan atmosfer tersebut, ada satu tips sederhana, pian-pian datanglah lebih awal sebelum kick-off dimulai. Pengalaman menunjukkan bahwa setiap pertandingan besar selalu membuat tempat-tempat nobar dipadati pengunjung.

Menariknya, fenomena nobar tidak hanya soal menonton sepak bola.

Nobar telah berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif. Ada interaksi sosial, promosi produk lokal, peningkatan transaksi usaha kecil, hingga tumbuhnya komunitas-komunitas baru yang memperkuat ikatan sosial masyarakat.

Karena itulah saya melihat Piala Dunia sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar turnamen olahraga, tetapi sebagai perayaan kemanusiaan,nostalgia lintas generasi serta ruang perjumpaan berbagai bangsa.
Dan bagi pelaku usaha kecil, ia adalah peluang ekonomi yang nyata.

Ketika jutaan pasang mata di seluruh dunia tertuju pada pertandingan di stadion-stadion megah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, di sudut-sudut warung kopi Banjarmasin, denyut ekonomi lokal juga ikut bergerak.

Mungkin inilah keindahan sesungguhnya dari Piala Dunia.Bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.

Tetapi tentang bagaimana sepak bola mampu menghadirkan kebahagiaan, menggerakkan ekonomi, dan menyatukan manusia dari berbagai latar belakang dalam satu bahasa yang sama, tentang cinta terhadap permainan yang bernama sepak bola.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.