Kinerja Jasa Keuangan Kalsel Stabil, OJK : Risiko Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global

oleh -43 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan, Agus Maiyo, menilai kinerja sektor jasa keuangan di Kalimantan Selatan hingga posisi Maret 2026 tetap berada dalam kondisi stabil dengan risiko yang masih terkendali, meskipun tekanan ketidakpastian geopolitik global masih berlangsung.

Menurut Agus, dinamika global masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Meski telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, gangguan distribusi energi dunia belum sepenuhnya pulih akibat masih berlanjutnya blokade di Selat Hormuz.

“Kondisi tersebut menyebabkan harga minyak dunia tetap bergerak volatil dan berada pada level relatif tinggi. Bagi Kalimantan Selatan, dampaknya dapat terasa secara tidak langsung terhadap biaya logistik komoditas ekspor seperti batu bara dan kelapa sawit serta harga bahan baku akibat gangguan rantai pasok global,” ujar Agus Maiyo saat memberikan keterangan resmi kepada awak media, Kamis (21/05/2026) di Banjarmasin.

Namun di tengah tekanan global tersebut, ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan I 2026 tetap menunjukkan kinerja positif. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,67 persen (year on year/yoy), meningkat dibanding triwulan IV 2025 yang tumbuh 5,46 persen (yoy) dan sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen (yoy).

Secara spasial, tiga daerah penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Kalimantan Selatan masih didominasi oleh Kota Banjarmasin dengan nilai mencapai Rp49,47 triliun, disusul Kabupaten Kotabaru sebesar Rp40,06 triliun, dan Kabupaten Tanah Bumbu senilai Rp38,33 triliun. Ketiganya tercatat membukukan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata provinsi.

Agus menjelaskan, pertumbuhan ekonomi daerah masih ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga serta surplus ekspor terhadap impor barang dan jasa yang semakin melebar sepanjang 2025. Kondisi itu dipengaruhi oleh penurunan impor yang lebih besar dibanding kontraksi pada sektor ekspor.

Dari sisi sektoral, struktur ekonomi Kalimantan Selatan masih didominasi sektor pertambangan dengan kontribusi 27,12 persen atau senilai Rp20,56 triliun, diikuti industri pengolahan sebesar 12,31 persen atau Rp6,93 triliun, meskipun pertumbuhannya mulai melambat dibanding tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan tertinggi justru tercatat pada lapangan usaha akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,12 persen (yoy) serta jasa lainnya sebesar 8,71 persen (yoy),” katanya.

Kinerja Perbankan Tetap Tumbuh

Di sektor perbankan, OJK mencatat fungsi intermediasi masih tumbuh positif dengan kondisi likuiditas yang memadai dan profil risiko yang tetap terkendali.

Hingga Maret 2026, penyaluran kredit perbankan di Kalimantan Selatan tumbuh 5,89 persen (yoy) menjadi Rp83,14 triliun. Sementara kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,57 persen.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi menjadi motor pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan mencapai 27,75 persen, diikuti Kredit Konsumsi sebesar 6,03 persen. Sementara Kredit Modal Kerja masih mengalami kontraksi sebesar 9,46 persen.

Penyaluran Kredit Investasi terbesar tercatat berada di Kota Banjarmasin sebesar Rp19,56 triliun, disusul Kabupaten Tanah Bumbu sebesar Rp1,02 triliun.

Pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), proporsi kredit mencapai 27,14 persen dari total kredit di Kalimantan Selatan. Pembiayaan terbesar terserap pada sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai Rp8,65 triliun.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,06 persen (yoy), didukung peningkatan signifikan pada giro sebesar 26,87 persen menjadi Rp29,78 triliun serta tabungan yang naik 5,53 persen menjadi Rp46,84 triliun. Sebaliknya, deposito mengalami kontraksi 18,41 persen menjadi Rp21,83 triliun.

Tabungan masih mendominasi struktur DPK dengan porsi 47,58 persen, diikuti giro 30,25 persen, dan deposito 22,18 persen. Secara wilayah, pangsa DPK terbesar terkonsentrasi di Kota Banjarmasin sebesar Rp61,31 triliun atau setara 62,28 persen dari total DPK provinsi.

Perbankan Syariah Mulai Membaik

Sementara itu, indikator kinerja perbankan syariah di Kalimantan Selatan menunjukkan tren perbaikan meski masih mengalami penyesuaian.

Aset perbankan syariah tercatat masih terkontraksi 9,43 persen (yoy) menjadi Rp11,07 triliun, namun membaik dibanding kontraksi sebelumnya sebesar 12,97 persen. Di sisi pembiayaan, kredit atau pembiayaan tumbuh 12,86 persen (yoy) menjadi Rp9,86 triliun, sementara DPK masih mengalami kontraksi 4,12 persen (yoy).

Meski demikian, Agus memastikan kondisi likuiditas perbankan syariah tetap terjaga dengan rasio sebesar 103,60 persen, sedangkan tingkat pembiayaan bermasalah atau NPF gross berada di level 1,92 persen, masih di bawah ambang batas risiko yang ditetapkan.

“Kinerja sektor jasa keuangan Kalimantan Selatan sampai dengan Maret 2026 tetap resilien. OJK terus mendorong intermediasi yang sehat agar mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” tutup Agus Maiyo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.