Kartu Lebaran, Riwayatmu Dulu… , Oleh : Helmi Rifai, S.H.

oleh -630 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Ada masa ketika Lebaran tidak hanya datang bersama gema takbir dan aroma opor ayam, tetapi juga bersama setumpuk kartu berwarna yang ditunggu-tunggu di atas meja ruang tamu. Kartu Lebaran. Sebuah benda sederhana, selembar kertas bergambar masjid, ketupat, bulan sabit, atau kaligrafi bertinta emas, namun sarat makna: silaturahmi yang ditulis tangan.

Sebelum layar ponsel menjadi jendela utama komunikasi, sebelum pesan berantai memenuhi grup keluarga, kartu Lebaran adalah penanda bahwa jarak tak pernah benar-benar memisahkan. Ia menempuh perjalanan panjang melalui kantor pos, disortir petugas dengan cap tanggal, lalu tiba beberapa hari menjelang Idulfitri. Rasanya seperti menerima kabar rindu yang dibungkus amplop.

Saya masih ingat bagaimana anak-anak kecil diminta membantu memilih kartu di toko alat tulis. Kami berdiri cukup lama di depan rak, menimbang desain paling indah. Ada yang bergambar Masjidil Haram, ada yang menampilkan lukisan suasana desa dengan beduk tergantung di langgar. Di sudutnya tertulis kalimat klasik: Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Namun yang paling penting bukanlah gambarnya, melainkan tulisan tangan di baliknya. Setiap huruf memiliki karakter. Ada yang rapi seperti cetakan, ada yang sedikit miring ke kanan, ada pula yang penuh coretan karena salah eja. Justru di situlah letak kejujurannya. Kartu Lebaran bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan hati yang diluangkan waktunya.

Menulis kartu Lebaran adalah latihan kesabaran sekaligus ketulusan. Kita harus memikirkan siapa penerimanya, memilih kata yang tepat, menyebut nama dengan hormat. Kepada orang tua, kalimatnya lebih takzim. Kepada sahabat lama, lebih cair dan hangat. Kepada guru, penuh doa dan terima kasih. Selembar kartu menjadi ruang kecil tempat kita menata rasa.

Kini, semuanya serba cepat. Satu gambar digital bisa dikirim ke ratusan orang dalam hitungan detik. Praktis, efisien, tanpa biaya perangko. Tetapi di tengah kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan menghilang,yakni sebuah jeda. Jeda untuk merenung sebelum menulis, jeda untuk menyadari bahwa meminta maaf bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan kebutuhan jiwa.

Teknologi tentu bukan musuh. Ia memudahkan kita menjangkau keluarga di seberang benua. Namun kartu Lebaran mengajarkan bahwa silaturahmi bukan hanya tentang pesan yang sampai, tetapi juga tentang proses yang ditempuh. Tentang waktu yang kita sisihkan. Tentang sentuhan personal yang tak tergantikan.

Kartu Lebaran juga menjadi arsip kenangan. Ia bisa disimpan dalam kotak kayu, dibuka kembali bertahun-tahun kemudian, dibaca ulang dengan senyum tipis. Di sana ada tanda tangan ayah yang kini telah tiada, atau tulisan sahabat yang entah di mana kabarnya. Setiap kartu adalah fragmen sejarah kecil dalam perjalanan hidup kita.

Sebagai seorang yang berlatar belakang hukum, saya kerap berpikir bahwa kartu Lebaran sejatinya adalah “dokumen moral”. Ia bukan kontrak yang mengikat secara yuridis, tetapi mengikat secara etis. Ia menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia dibangun atas dasar saling menghormati dan saling memaafkan. Dalam masyarakat yang kian kompleks, nilai itu terasa semakin penting.

Barangkali kita tak perlu sepenuhnya kembali ke masa lalu. Namun tidak ada salahnya sesekali menulis tangan, mengirim kartu kepada orang-orang yang istimewa. Bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk merawat kehangatan yang mulai pudar oleh kecepatan zaman.

Kartu Lebaran, riwayatmu dulu mungkin sederhana. Engkau pernah menjadi duta rindu, pembawa maaf, dan penjaga kenangan. Meski kini posisimu digantikan notifikasi digital, jejakmu tetap hidup dalam ingatan.

Dan setiap kali takbir berkumandang, saya percaya di sudut hati banyak orang masih ada kerinduan pada selembar kartu yang ditulis dengan tinta dan doa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.