Gunung Aman, Guide Harus Bersertifikasi

oleh -25 views

Kalseltenginfo.com, Bandung – Meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata pendakian dan petualangan alam mendorong kebutuhan akan pemandu wisata gunung yang profesional, kompeten, dan memiliki standar keselamatan yang jelas.

Bagi pelaku industri wisata alam, seorang guide gunung bukan sekadar penunjuk jalan menuju puncak, tetapi memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan wisatawan, memahami karakter medan, serta memastikan aktivitas pendakian berjalan aman dan berkelanjutan.

Atas dasar itu, Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi bersama LPK Elang Khatulistiwa Indonesia mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program Test dan Standarisasi Pemandu Wisata Gunung.Kegiatan ini juga kerjasama mereka dengan Perhutani dan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia,

Founder LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, yang juga traveller dan pegiat wisata alam, mengatakan sertifikasi menjadi kebutuhan penting untuk membangun kepercayaan wisatawan sekaligus meningkatkan standar pelayanan wisata gunung di Indonesia.

“Gunung memiliki tantangan dan risiko yang tidak bisa dianggap sederhana. Seorang pemandu harus memiliki kemampuan teknis, memahami keselamatan perjalanan, mampu mengambil keputusan saat kondisi darurat, serta memiliki wawasan konservasi alam,” ujar Abby.

Menurutnya, pengalaman mendaki saja belum cukup untuk menjadi seorang pemandu profesional. Dibutuhkan proses pembelajaran, pengujian kemampuan, dan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan.

“Guide profesional harus terus belajar. Mereka bukan hanya membawa wisatawan mencapai tujuan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keselamatan manusia dan kelestarian alam,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi, Muhammad Risanta, menegaskan standarisasi pemandu gunung merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas pariwisata berbasis alam.

Menurutnya, perkembangan wisata petualangan harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan standar kerja.

“Pariwisata gunung tidak boleh hanya mengejar jumlah kunjungan. Faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama. Karena itu, pemandu wisata gunung harus memiliki sertifikasi dan kapasitas yang terus diperbarui,” ujar Muhammad Risanta.

Ia menambahkan, pemandu gunung memiliki peran strategis sebagai penghubung antara wisatawan dengan alam.

“Seorang guide bukan hanya menunjukkan jalur pendakian, tetapi juga menjadi edukator tentang lingkungan, penjaga keselamatan, dan representasi wajah pariwisata Indonesia,” katanya.

Dorong Standar Nasional Pemandu Gunung

Program Test Pemandu Wisata Gunung dan Standarisasi Pemandu Wisata Gunung akan dilaksanakan di Gunung Lemah dengan konsep pembelajaran berbasis praktik lapangan.

Kegiatan uji pemandu wisata gunung dilaksanakan dalam dua gelombang, yakni 28–29 Juli dan 30–31 Juli. Sedangkan program standarisasi berlangsung selama 3 hari 2 malam, yaitu 4–6 Agustus dan 11–13 Agustus.

Peserta akan mendapatkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari e-certificate, kaos eksklusif, KTA Asosiasi Duta TiWi, Kartu Kuning Disnaker, syal, hingga brevet.

Dengan biaya registrasi sebesar Rp750 ribu, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pembinaan bagi calon maupun pemandu wisata gunung aktif untuk meningkatkan kemampuan profesional.

Abby sendiri berharap program tersebut mampu melahirkan generasi baru pemandu wisata gunung Indonesia yang tidak hanya tangguh menghadapi medan, tetapi juga memiliki karakter pelayanan, kepedulian lingkungan, dan komitmen terhadap keselamatan.

“Gunung adalah ruang yang harus dihormati. Dengan guide yang kompeten dan bersertifikasi, wisata alam Indonesia dapat berkembang lebih aman, profesional, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.