Uji Ketiga Pemadaman Karhutla, Pemprov Kalsel Tingkatkan Surfaktan Jadi 1.500 Liter

oleh -69 views

Kalseltenginfo.com, Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kembali menguji penggunaan cairan surfaktan untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi water bombing. Pada pengujian ketiga, volume surfaktan yang dicampurkan ke dalam air ditingkatkan menjadi 1.500 liter guna mengetahui efektivitasnya dalam menurunkan suhu panas di titik kebakaran.

Uji coba tersebut ditinjau langsung Gubernur Kalsel H. Muhidin bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin di Embung Mini, kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kamis (29/10/2026).

Peninjauan ini menjadi bagian dari rangkaian upaya penanganan karhutla di Kalimantan Selatan, mulai dari dukungan bantuan bagi masyarakat dan petugas hingga penguatan sarana pemadaman di lapangan.

Sebelum menuju lokasi pengujian, Gubernur bersama Pangdam, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, dan jajaran Forkopimda Kalsel menghadiri penyaluran sekitar 3.500 paket sembako bantuan Presiden di Posko Guntung Damar, Banjarbaru.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat terdampak karhutla, relawan, komunitas ojek online, serta petugas yang bertugas di posko penanganan kebakaran.

Di Embung Mini, perhatian utama diarahkan pada pengujian campuran air dan surfaktan sebagai bahan pendukung pemadaman dari udara. Metode ini diharapkan dapat membantu operasi water bombing, terutama pada titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Gubernur H. Muhidin menjelaskan, pengujian telah dilakukan sebanyak tiga kali dengan peningkatan volume surfaktan pada setiap tahap.

Uji coba pertama berlangsung pada Selasa (20/10/2026), dengan menggunakan campuran air dan 800 liter Surfaktan Pyrox yang dijatuhkan ke titik api di sekitar Guntung Damar.

Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar untuk melakukan penyempurnaan. Embung diperdalam hingga empat meter dan volume surfaktan ditingkatkan menjadi 1.000 liter pada pengujian kedua, Selasa (27/10/2026).

Pada pengujian ketiga, volume surfaktan kembali ditambah menjadi 1.500 liter.

“Ini sudah ketiga kalinya kita melakukan uji coba. Pertama 800 liter, kedua 1.000 liter, dan sekarang 1.500 liter. Kita ingin mengetahui apakah penambahan ini membuat pemadaman lebih efektif,” tuturnya.

Menurut Muhidin, pengujian dilakukan untuk mengukur kemampuan campuran tersebut dalam menurunkan suhu panas di titik kebakaran. Pengukuran dilakukan menggunakan perangkat thermal sebelum dan sesudah penyiraman melalui udara.

Berdasarkan pengamatan pada pengujian sebelumnya, suhu yang semula mencapai sekitar 300 derajat dilaporkan turun sekitar 100 derajat setelah penyiraman. Melalui penambahan volume surfaktan pada tahap ketiga, pemerintah ingin mengetahui apakah penurunan suhu dapat lebih besar.

“Kita lihat hasilnya melalui pengukuran thermal. Kalau penurunan suhunya lebih besar, berarti metode ini semakin menjanjikan untuk diterapkan pada titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau,” katanya.

Muhidin menegaskan, penanganan karhutla tetap mengandalkan kombinasi berbagai metode. Pemadaman melalui jalur darat dilakukan menggunakan tangki air, sementara helikopter dikerahkan untuk menjangkau lokasi yang tidak dapat diakses petugas.

Embung Mini disiapkan sebagai sumber air tambahan untuk mempercepat pengisian helikopter sehingga operasi pemadaman dari udara dapat berlangsung lebih efektif. Sarana ini menjadi salah satu dukungan penanganan kebakaran, khususnya di kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor.

“Kita sudah melakukan pemadaman melalui jalur darat. Untuk lokasi yang tidak bisa dijangkau, kita siapkan embung agar helikopter bisa mengambil air dan melakukan water bombing. Mudah-mudahan metode campuran surfaktan ini efektif,” lanjutnya.

Di luar upaya teknis pemadaman, Gubernur kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut berisiko memicu kebakaran yang meluas dan menambah beban petugas di lapangan.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, karena dampaknya bisa meluas dan menyulitkan upaya pemadaman. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar kebakaran tidak terus berulang,” pungkasnya.

Pengujian ketiga ini diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai efektivitas penggunaan surfaktan dalam operasi pemadaman dari udara. Hasil pengukuran dan evaluasi teknis selanjutnya menjadi penting untuk menentukan kelayakan penerapan metode tersebut pada titik-titik karhutla yang sulit dijangkau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.