PODCAST JURNALIS ON AIR, Ketika Dua Generasi Pers Banua Bertemu dalam Ruang Publik yang Mencerahkan

oleh -65 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Di tengah derasnya arus informasi digital, kebutuhan akan ruang dialog yang sehat, bernas, dan mencerahkan semakin penting. Dari kebutuhan itulah lahir “Jurnalis On Air”, sebuah podcast yang dipandu oleh Anang Fadillah.

Program ini dirancang sebagai ruang percakapan publik ala jurnalis. Bukan sekadar wawancara formal, melainkan obrolan ringan yang menggali pengalaman, gagasan, perjalanan hidup, hingga refleksi para tokoh dari berbagai bidang.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan jurnalistik yang santai namun tetap berbobot, menghadirkan perspektif yang sering kali tidak ditemukan dalam pemberitaan sehari-hari.

Pada edisi perdana Juni 2026, “Jurnalis On Air” menghadirkan sosok yang tidak asing bagi dunia pers Kalimantan Selatan maupun nasional, yakni Muhammad Risanta.

Dari Bawah, Meniti Jalan Panjang Jurnalisme

Dalam perbincangan tersebut, Risanta berbagi kisah perjalanan karier yang dimulai dari bawah. Sebuah perjalanan yang tidak selalu mudah, namun penuh pelajaran tentang ketekunan, konsistensi, dan keberanian menghadapi perubahan zaman.

Dunia jurnalistik baginya bukan sekadar profesi, melainkan ruang pengabdian yang mempertemukan idealisme dengan kepentingan publik. Dari ruang redaksi lokal hingga panggung nasional, perjalanan itu membentuk perspektif yang luas tentang bagaimana media harus hadir sebagai penjernih informasi sekaligus penjaga demokrasi.

Kini, kiprah Risanta dikenal luas melalui perannya sebagai jurnalis di CNN Indonesia serta sebagai Ahli Pers Dewan Pers. Di berbagai forum nasional, ia aktif berbicara mengenai peningkatan kualitas jurnalisme, literasi media, serta tantangan pers di era kecerdasan buatan dan transformasi digital.

Pendidikan dan Regenerasi Wartawan

Salah satu tema menarik dalam podcast ini adalah pentingnya regenerasi wartawan.
Selain aktif di dunia media, Risanta juga mendedikasikan diri sebagai dosen tetap di STIE Pancasetia Banjarmasin. Baginya, ruang kelas menjadi tempat strategis untuk menanamkan nilai-nilai jurnalistik kepada generasi muda.

Selama bertahun-tahun, ia terlibat dalam berbagai pelatihan, workshop, seminar, dan program peningkatan kapasitas wartawan. Upaya tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa kualitas demokrasi sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang diterima masyarakat.

Dalam pandangannya, wartawan masa depan tidak cukup hanya mampu menulis berita. Mereka juga harus memahami teknologi, etika, literasi digital, verifikasi informasi, hingga kemampuan membangun komunikasi publik yang sehat.

Pers, Pariwisata, dan Diplomasi Daerah

Percakapan juga mengulas aktivitas Risanta sebagai penggiat pariwisata nasional. Karena sekarang ia adalah Humas DPP Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) di Jakarta. Sedangkan di Kota Kembang, Bandung, Risanta menempati posisi strategis, sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemandu Bakti Pertiwi yang bermarkas di Cikole, Lembang, Bandung.

Baginya, pariwisata bukan sekadar urusan destinasi dan kunjungan wisatawan. Pariwisata adalah narasi tentang identitas daerah, budaya, ekonomi kreatif, dan diplomasi sosial yang mampu memperkenalkan daerah ke tingkat nasional maupun internasional.

Pers memiliki peran penting dalam membangun optimisme daerah melalui pemberitaan yang konstruktif tanpa kehilangan fungsi kontrol sosialnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.