Pasar Terapung Lok Baintan Harus Diselamatkan

oleh -64 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Kekhawatiran terhadap keberlangsungan Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, mulai mengemuka dari berbagai kalangan. Penggiat lingkungan dan pariwisata Kalimantan Selatan, Muhammad Arifin, bersama Jurnalis Senior sekaligus akademisi, Muhammad Risanta, sepakat bahwa diperlukan langkah serius dan pemikiran matang dari pemerintah maupun masyarakat untuk menjaga eksistensi warisan budaya sungai tersebut.

Muhammad Arifin yang dikenal sebagai salah satu legenda pramuwisata Kalimantan Selatan mengaku prihatin melihat berbagai tantangan yang dihadapi Pasar Terapung Lok Baintan saat ini. Menurutnya, pengalaman Pasar Terapung Kuin yang sempat mengalami kemunduran harus menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang.

“Jangan sampai Lok Baintan bernasib seperti Pasar Terapung Kuin. Kita pernah memiliki pasar terapung yang sangat ramai, namun perlahan kehilangan denyut ekonominya akibat perubahan zaman. Ini harus menjadi alarm bagi semua pihak,” ujar Arifin.

Ketua Dewan Pengawas Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Selatan itu menilai Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar objek wisata, melainkan simbol peradaban sungai masyarakat Banjar yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

“Pasar terapung adalah identitas urang Banjar. Di sana ada budaya bertutur, tradisi berpantun, interaksi sosial, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sungai. Kalau pasar ini hilang, maka yang hilang bukan hanya aktivitas jual beli, tetapi juga sebagian identitas Banua,” katanya.

Arifin menegaskan, upaya pelestarian harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemberdayaan pedagang, regenerasi acil-acil pedagang, perbaikan infrastruktur, hingga pelestarian lingkungan sungai.

Senada dengan Arifin, Jurnalis Senior dan Akademisi Muhammad Risanta menilai keberlangsungan Pasar Terapung Lok Baintan membutuhkan keberpihakan nyata dari pemerintah daerah melalui kebijakan jangka panjang.

“Pasar Terapung Lok Baintan tidak cukup hanya dipromosikan sebagai destinasi wisata. Harus ada program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan agar masyarakat tetap memiliki insentif untuk mempertahankan tradisi berdagang di sungai,” ujar Risanta.

Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah persoalan regenerasi pedagang. Sebagian besar pedagang pasar terapung merupakan perempuan lanjut usia, sementara minat generasi muda untuk melanjutkan tradisi tersebut terus menurun.

“Jika tidak ada skema regenerasi yang jelas, kita khawatir beberapa dekade mendatang jumlah pedagang akan semakin berkurang. Pemerintah perlu memikirkan program khusus untuk menarik generasi muda agar tetap tertarik mempertahankan budaya pasar terapung,” katanya.

Selain itu, Risanta juga mendorong penerapan digitalisasi transaksi melalui sistem pembayaran nontunai seperti QRIS untuk memudahkan wisatawan berbelanja tanpa menghilangkan nilai tradisional pasar.

“Kita tidak bisa menolak modernisasi. Yang harus dilakukan adalah mengawinkan tradisi dengan teknologi. Dengan demikian, pasar terapung tetap relevan di tengah perubahan perilaku masyarakat,” ujarnya.

Kedua tokoh tersebut sepakat bahwa pelestarian Sungai Martapura sebagai ruang hidup pasar terapung harus menjadi prioritas utama. Menurut mereka, tanpa sungai yang bersih dan sehat, keberadaan pasar terapung akan sulit dipertahankan.

Muhammad Arifin dan Muhammad Risanta berharap pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pelaku pariwisata, akademisi, komunitas lingkungan, hingga masyarakat luas dapat duduk bersama merumuskan strategi besar penyelamatan Pasar Terapung Lok Baintan.

“Warisan budaya seperti Pasar Terapung Lok Baintan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ini membutuhkan komitmen bersama. Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal pasar terapung melalui foto dan cerita masa lalu,” pungkas keduanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.