Mantapnya Padi Apung Bikin Sumringah Petani Jejangkit

oleh -1,840 views

Kalseltenginfo.com, Batola – Tahukah kita ternyata budidaya padi apung semakin membuat petani semakin mudah. Karena sejatinya inovasi ini membuat petani bisa menghemat biaya. Karena dengan sistem Tanam Padi Apung petani tidak perlu membajak lahan, tidak membutuhkan penyiraman air yang biasanya melalui saluran irigasi, dan tidak membutuhkan perawatan untuk menyiangi rumput. Terbebas dari ancaman kekurangan air (kekeringan).

Setidaknya sumringah ini dirasakan Kelompok Tani Bunga Padi, Desa Sampurna, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel.Karena ternyata teknologi memberikan hasil bagi mereka di lahan yang sebagian besar adalah rawa. Terbukti mereka pun bisa memanen langsung padi dari Teknologi Sawah Apung (floating rice technology) merupakan adaptasi penanaman padi pada daerah rawan banjir.

Keberhasilan panen yang dilakukan para petani Jejangkit, Batola ini pun diapresiasi penuh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Fadjar Majardi.

“Panen padi apung ini adalah hasil dari implementasi Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) Tahun 2023. Kami berhasil memanen padi apung dari 300 styrofoam. Kegiatan ini merupakan langkah besar dalam meningkatkan kapasitas produksi dan pendapatan petani di wilayah tersebut.”ungkapnya dalam keterangan resmi yang disampaikan kepada sejumlah media di Banjarmasin, Senin (12/08/2024).

Fadjar menjelaskan bahwa penerapan budidaya padi apung bertujuan untuk mengatasi masalah geografis yang dihadapi oleh petani setempat. Dia pun berpendapat ketika musim hujan tiba biasanya lahan pertanian milik petani sering tergenang air dalam yang menghambat kegiatan budidaya. Dengan budidaya padi apung, pihanya berharap dapat meningkatkan frekuensi penanaman padi menjadi minimal dua kali dalam setahun, serta meningkatkan kapasitas produksi dan pendapatan petani.

Dalam proyek ini, berbagai komponen seperti styrofoam, benih, media tanam, pupuk, pestisida, dan pembenah tanah telah disediakan oleh Bank Indonesia melalui implementasi PSBI. Selain itu, petani juga telah mendapatkan pelatihan capacity building mengenai manajemen budidaya padi apung sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku.

“Pelatihan ini bertujuan untuk memastikan bahwa para petani dapat memanfaatkan teknologi ini secara efektif dan efisien,” tegas Fadjar.

Melalui produktivitas panen yang menggembirakan ini disebutkan petani memperoleh hasil panen sekitar 7,9 ton per hektare, jauh di atas rata-rata hasil produksi kelompok tani yang hanya mencapai 3-3,5 ton per hektare dengan metode konvensional. Ini menunjukkan bahwa padi apung dapat memberikan hasil yang lebih optimal

“Keberhasilan proyek ini tidak terlepas dari sinergi antara berbagai pihak. Kami berterima kasih kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Barito Kuala, serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Jejangkit yang telah memberikan dukungan dan pendampingan maksimal kepada petani,” ujarnya.

Fadjar pun berharap inovasi padi apung ini akan menjadi model bagi pengembangan pertanian di daerah lainnya, dan dapat terus meningkatkan kesejahteraan petani secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.