Batola, Sawah, dan Cara Kita Memahami Masa Depan, Oleh : Helmi Rifai

oleh -18 views

Kalseltenginfo.com, Marabahan – Tahukah kita ada banyak cara membaca sebuah daerah.

Sebagian orang membacanya dari gedung-gedung tinggi yang berdiri. Sebagian lagi melihatnya dari angka investasi, jumlah industri, atau ramainya pusat perbelanjaan. Tetapi bagi saya, ada cara yang lebih sederhana lihatlah sawahnya.

Karena di hamparan sawah, kita bisa melihat bagaimana sebuah daerah merawat masa depannya.

Jumat pagi di Jejangkit, ketika Gerakan Tanam Serempak Nasional dilaksanakan, saya membayangkan ribuan benih padi yang baru ditanam itu bukan sekadar bibit tanaman. Di dalamnya tersimpan harapan, kerja keras, dan keyakinan bahwa tanah masih mampu memberi kehidupan.

Barito Kuala memang memiliki hubungan yang unik dengan pertanian. Sejak lama daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Kalimantan Selatan. Namun menjadi lumbung pangan sesungguhnya bukan hanya soal menghasilkan gabah dalam jumlah besar. Lebih dari itu, Jejangkitan adalah sebuah cerita panjang tentang kemampuan menjaga keberlanjutan.

Karena menanam padi hari ini sebenarnya adalah pekerjaan untuk masa depan.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Anak-anak muda bercita-cita bekerja di kota besar. Teknologi berkembang demikian pesat. Dunia digital menawarkan begitu banyak peluang baru. Di tengah perubahan itu, kadang kita lupa bahwa semua aktivitas modern tersebut tetap membutuhkan satu hal yang sangat mendasar: makanan.

Tidak ada aplikasi yang bisa menggantikan nasi di atas meja makan.

Karena itu saya selalu merasa sektor pertanian sering kali kurang mendapat penghargaan yang layak. Padahal ketika dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi, ketika harga-harga bergejolak, bahkan ketika konflik terjadi di berbagai belahan dunia, sektor pangan justru menjadi penopang utama ketahanan sebuah bangsa.

Batola memahami hal itu.

Produksi sekitar 333 ribu ton gabah pada tahun 2025 bukan sekadar angka statistik. Angka tersebut sesungguhnya adalah cerita tentang ribuan petani yang bangun sebelum matahari terbit, tentang lahan yang terus dioptimalkan, tentang alat-alat pertanian yang mulai dimodernisasi, dan tentang kesabaran yang tidak pernah tercatat dalam laporan resmi.

Saya melihat optimasi lahan yang dilakukan di Jejangkit sebagai bentuk kesadaran pertanian tidak boleh berjalan dengan cara-cara lama semata. Produktivitas harus meningkat, teknologi harus masuk, dan generasi muda harus mulai melihat sektor ini sebagai ruang masa depan, bukan sekadar warisan masa lalu.

Tak kalah penting peran Brigade Pangan menjadi menarik.

Mereka bukan hanya kelompok kerja pertanian. Mereka adalah simbol bahwa pertanian kini membutuhkan manajemen, organisasi, dan cara berpikir yang lebih modern. Sawah tidak lagi cukup dikelola dengan semangat gotong royong saja. Namun juga membutuhkan efisiensi, perencanaan, dan inovasi.

Namun ada satu hal yang menurut saya paling penting.

Di tengah berbagai program pemerintah, bantuan alat, maupun target produksi yang terus meningkat, kita tidak boleh kehilangan inti dari seluruh upaya tersebut: petani.

Karena sehebat apa pun program pertanian, ujungnya tetap bermuara pada kesejahteraan petani. Jika produksi meningkat tetapi petani tetap sulit hidup, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Untungnya, pesan itu juga tampak dalam pandangan pemerintah daerah. Ketika Bupati Bahrul Ilmi berbicara mengenai penguatan sektor pertanian, yang disampaikan bukan hanya target nasional, tetapi juga kesejahteraan masyarakat. Inilah yang semestinya kita apresiasi sebagai pembangunan yang menemukan maknanya.

Sebab pembangunan sejatinya bukan tentang angka yang naik di atas kertas.

Pembangunan adalah ketika hasil kerja petani mampu menyekolahkan anaknya lebih tinggi. Ketika rumah-rumah di desa menjadi lebih layak. Ketika ekonomi keluarga menjadi lebih kuat. Dan ketika generasi muda tidak lagi memandang pertanian sebagai pekerjaan yang terpaksa dijalani.

Gerakan tanam serempak di Jejangkit mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi dampaknya bisa jauh melampaui hari itu.

Benih yang ditanam akan tumbuh menjadi padi. Padi akan menjadi beras. Beras akan menjadi makanan di meja makan banyak keluarga. Dan dari proses sederhana itulah sesungguhnya sebuah bangsa bertahan.

Saya melihat ini akan jadi happy ending, jika ketahanan pangan bukan dibangun di ruang rapat.

Ketahanan pangan dibangun di lumpur sawah.

Dan selama hamparan sawah Batola tetap hijau, selama petaninya tetap bersemangat menanam, saya percaya Barito Kuala akan terus mengukuhkan dirinya sebagai lumbung pangan Kalimantan Selatan, bahkan menjadi salah satu penjaga dapur Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.