Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Ramadhan selalu datang membawa janji: tentang pengendalian diri, tentang kejernihan batin, dan tentang kesempatan menata ulang hidup. Namun, di tengah cahaya spiritual itu, ada ironi yang kerap berulang saban tahun, disebut pula bulan menahan lapar justru menjadi musim belanja paling ramai. Diskon, paket berbuka, busana baru, dan ragam kebutuhan yang tiba-tiba terasa “wajib” hadir bersamaan dengan seruan menahan hawa nafsu.
Perilaku konsumtif sering kali menyelinap tanpa disadari. Niat awal menyambut Ramadhan dengan khusyuk perlahan bergeser menjadi dorongan memenuhi hasrat duniawi. Padahal, puasa sejatinya mengajarkan satu hal mendasar: membedakan mana kebutuhan, mana keinginan.
Ramadhan 1447 Hijriah oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dipandang sebagai momentum menata ulang orientasi hidup. Bukan hanya dalam cara bekerja dan melayani, tetapi juga dalam cara membelanjakan penghasilan. Pesan ini terasa relevan di tengah masyarakat yang kerap terjebak pada euforia konsumsi menjelang dan selama Ramadhan.
Puasa adalah latihan pengendalian diri yang paling konkret. Dari menahan makan dan minum, manusia diajak belajar mengelola keinginan yang lebih besar,termasuk keinginan berbelanja berlebihan. Dalam konteks keuangan, Ramadhan semestinya menjadi ruang refleksi: sejauh mana penghasilan kita digunakan untuk hal yang benar-benar bermakna.
Mengatur keuangan di bulan Ramadhan bukan berarti hidup dalam kekurangan. Sebaliknya, ia adalah seni hidup sederhana yang sehat. Pola konsumsi yang seimbang,makan secukupnya saat berbuka dan sahur, berbelanja sesuai kebutuhan, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi,justru melahirkan ketenangan batin. Keuangan yang sehat kerap beriringan dengan jiwa yang tenang.
Kesederhanaan juga berdampak pada kesehatan. Berbuka berlebihan, membeli makanan berlimpah yang akhirnya terbuang, bukan hanya melukai nilai puasa, tetapi juga mencerminkan pemborosan. Ramadhan hadir untuk merapikan, bukan menumpuk. Mengurangi yang berlebih agar makna bisa tumbuh.
Dalam kehidupan sosial, pengendalian konsumsi membuka ruang empati. Setiap rupiah yang tidak dihamburkan dapat dialihkan menjadi bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Kami berpandangan sederhana bahwa puasa menemukan maknanya sebagai ibadah sosial,mengasah kepekaan terhadap sesama, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadhan.
Menteri Agama kerap menegaskan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada ritual. Nilai spiritual harus hadir dalam tindakan sehari-hari, termasuk dalam keputusan ekonomi. Cara kita mengelola uang mencerminkan cara kita memaknai hidup. Ramadhan menjadi cermin besar: apakah kita benar-benar berpuasa, atau sekadar mengubah jadwal makan.
Akhirnya, Ramadhan adalah undangan untuk kembali pada keseimbangan. Hidup sederhana bukan tanda kekurangan, melainkan kedewasaan. Keuangan yang tertata bukan sekadar soal angka, tetapi tentang arah. Ketika pengeluaran diatur dengan bijak, Ramadhan tidak hanya meninggalkan rasa lapar yang berlalu, tetapi juga jejak makna yang menetap—dalam hidup, dalam hati, dan dalam cara kita memandang dunia.





