Menyaring Informasi di Tengah Banjir Konten Digital

oleh -488 views

Kalseltenginfo.com, Batulicin – Arus informasi yang kian deras menuntut media dan penyampai pesan publik untuk tidak hanya berlomba dalam kecepatan, tetapi juga ketepatan dan kehati-hatian. Di tengah banjir konten digital, proses penyaringan informasi menjadi kunci agar berita tidak menimbulkan kebingungan atau dampak negatif di masyarakat.

Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah triple filter test atau tiga uji saring sebelum sebuah informasi disebarluaskan. Pendekatan ini menempatkan tanggung jawab etik sebagai bagian tak terpisahkan dari kerja jurnalistik.

Tiga uji tersebut dimulai dari pertanyaan paling mendasar: apakah informasi yang akan disampaikan benar. Setelah itu, muncul pertimbangan lanjutan, apakah informasi tersebut baik jika dipublikasikan, serta apakah benar-benar perlu dan relevan untuk diketahui publik.

Wakil Kepala Desk Ekonomi dan Bisnis Kompas, Aris Prasetyo, mengatakan ketiga pertanyaan itu berfungsi sebagai rem dalam kerja jurnalistik, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu yang kompleks dan sensitif. “Tugas kita bukan hanya menyampaikan, tetapi mengolah dan mendalaminya agar informasi itu memberi manfaat,” ujarnya saat memberikan materi dalam Capacity Building Jurnalis 2026, di Batulicin, Selasa (10/02/2026).

Menurut Aris, akurasi saja tidak cukup. Setiap informasi perlu ditimbang dampaknya terhadap masyarakat. Cara penyampaian, niat di balik publikasi, hingga pemilihan kanal distribusi menjadi bagian dari tanggung jawab etik media.

Tantangan tersebut semakin terasa di era digital. Media daring dan kanal elektronik dituntut untuk terus melakukan verifikasi dan konfirmasi, bahkan setelah informasi dipublikasikan. Proses editorial tidak berhenti saat berita tayang.

Ia mencontohkan fenomena konten yang dihapus tetapi masih meninggalkan jejak judul di ruang digital. Situasi ini kerap membingungkan publik dan menunjukkan bahwa literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Judulnya masih ada, tapi isinya hilang ketika diakses. Ini realitas baru yang harus dihadapi media dan pembaca,” kata Aris.

Karena itu, triple filter test dipandang bukan sekadar pedoman teknis, melainkan kerangka berpikir untuk menjaga kualitas informasi di ruang publik. Dengan penyaringan yang tepat, media diharapkan tetap menjadi rujukan yang dipercaya, bukan sekadar pengisi lalu lintas informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.