Puteri Indonesia Dukung PP TUNAS, Generasi Emas Indonesia Butuh Ruang Digital yang Aman

oleh -28 views

Kalseltenginfo.com, Jakarta – Dukungan terhadap upaya perlindungan anak di ruang digital terus menguat. Kali ini, dukungan datang dari Yayasan Puteri Indonesia bersama jajaran Puteri Indonesia 2026 yang menyatakan kesiapannya untuk mengampanyekan pentingnya keamanan anak di internet sebagai bagian dari investasi menuju Generasi Emas Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dengan enam Puteri Indonesia 2026 yang dipimpin Ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia Putri Kus Wisnu Wardani dan Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia Wardiman Djojonegoro, di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Dalam dialog tersebut, Meutya Hafid menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital kini menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya penetrasi internet dan penggunaan platform digital oleh anak-anak dan remaja.

Menurutnya, ancaman yang dihadapi anak di dunia digital tidak hanya berupa paparan konten yang tidak sesuai usia, tetapi juga mencakup risiko interaksi dengan orang asing, eksploitasi daring, perundungan siber, hingga kecanduan penggunaan platform digital.

“Perlindungan anak di ruang digital harus melihat profil risiko yang dihadapi anak, mulai dari risiko kontak, risiko konten, hingga risiko kecanduan. Karena itu PP TUNAS mengatur langkah-langkah perlindungan yang proporsional sesuai tingkat risiko masing-masing platform,” ujar Meutya.

Sebagai contoh, Meutya mengungkapkan bahwa salah satu platform gim global, Roblox, telah melakukan penyesuaian khusus untuk pengguna di Indonesia dengan menonaktifkan fitur kontak bagi pengguna berusia di bawah 16 tahun sebagai bentuk mitigasi risiko.

Urgensi perlindungan anak semakin besar mengingat jumlah pengguna internet Indonesia kini mencapai sekitar 229 juta orang, dengan rata-rata waktu penggunaan internet lebih dari tujuh jam per hari.

Di sisi lain, berbagai indikator menunjukkan meningkatnya tantangan kesehatan mental pada anak dan remaja. Mulai dari fenomena kecanduan digital, perundungan daring, hingga meningkatnya kasus gangguan kesehatan jiwa yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Meutya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga atau sekolah semata, melainkan memerlukan kolaborasi pemerintah, industri teknologi, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat luas.

“Perlindungan anak adalah isu universal. Ketika Indonesia berbicara tentang masa depan digital, maka keselamatan anak harus menjadi bagian penting dari percakapan global,” tegasnya.

Puteri Indonesia, Ruang Digital Harus Menjadi Ruang Tumbuh yang Sehat

Puteri Indonesia 2026 Agnes Aditya Rahajeng menilai kehadiran PP TUNAS merupakan langkah strategis untuk menjawab berbagai kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman yang dihadapi anak-anak di internet.

Menurutnya, ruang digital memiliki manfaat besar sebagai sarana belajar dan memperoleh informasi. Namun tanpa perlindungan yang memadai, ruang yang sama dapat menjadi sumber berbagai risiko bagi anak.

“Anak-anak dan remaja rentan terhadap paparan pornografi, pelecehan seksual, hingga bullying di media sosial. Di sisi lain, internet juga merupakan sarana informasi yang sangat powerful. Karena itu diperlukan pengawasan dan perlindungan yang memadai agar manfaatnya dapat dirasakan tanpa mengorbankan keselamatan anak,” kata Agnes.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia Putri Kus Wisnu Wardani. Ia menilai perubahan pola tumbuh kembang anak akibat perkembangan teknologi digital harus direspons dengan kebijakan yang adaptif dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.

“Kami melihat perbedaan yang sangat besar dibandingkan generasi sebelumnya. Anak-anak saat ini lebih banyak berinteraksi dengan gawai dibandingkan bermain dan berkomunikasi secara langsung. Karena itu kami memandang program ini layak mendapat dukungan penuh dari Yayasan Puteri Indonesia,” ujarnya.

Dukungan terhadap PP TUNAS tidak berhenti pada tataran simbolik. Puteri Pendidikan 2026 Gisella Agnes Silalahi menyatakan komitmennya untuk turut mengedukasi masyarakat, khususnya pelajar, mengenai pentingnya keamanan dan perlindungan anak di ruang digital.

Ia berencana melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah sekaligus membawa isu tersebut ke forum internasional.

“Saya ingin ikut menyosialisasikan PP TUNAS ke sekolah-sekolah agar anak-anak memahami hak dan risikonya di ruang digital. Selain itu, saya juga ingin mengangkat isu perlindungan anak sebagai bagian dari agenda global yang harus menjadi perhatian bersama,” kata Gisella yang akan mewakili Indonesia pada ajang Miss Charm di Vietnam.

Selain Agnes Aditya Rahajeng dan Gisella Agnes Silalahi, dukungan terhadap perlindungan anak di ruang digital juga disampaikan oleh Victoria Titisari Koesasi Putri (Puteri Indonesia Lingkungan 2026/Miss International Indonesia 2026), Karina Moudy Widodo (Puteri Indonesia Pariwisata 2026/Miss Cosmo Indonesia 2026), Glorya Stevany Yame Nayoan (Puteri Indonesia Teknologi dan Inovasi 2026), serta Athalla Hartiana Putri Hardian (Puteri Indonesia Intelegensia II dan Influencer 2026).

Kehadiran mereka menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital bukan hanya agenda pemerintah, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

Di tengah pesatnya transformasi digital, keberhasilan Indonesia membangun generasi emas tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan ruang digital yang aman, sehat, dan berpihak pada tumbuh kembang anak.

Teknologi yang baik bukan hanya soal konektivitas dan inovasi, melainkan juga tentang bagaimana melindungi mereka yang paling rentan di dalamnya: anak-anak Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.