Pamor Borneo Buka Ruang Investasi, UMKM Banua Catat Transaksi Ekonomi

oleh -236 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Di balik kemeriahan pagelaran Sasirangan dan produk kreatif Banua, kegiatan yang digelar Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan tersebut juga mencatat pergerakan ekonomi melalui forum investasi, transaksi UMKM, serta penguatan ekosistem digital.

Ketua Panitia Pamor Borneo 2026 Irfan Farulian mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan potensi daerah dengan investor, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan ekonomi.

Dalam forum investasi, sebanyak 15 proyek investasi dengan nilai mencapai Rp 73 triliun diperkenalkan kepada calon investor. Dari 20 investor yang hadir, tercatat 32 Letter of Intent (LoI) dengan nilai komitmen investasi mencapai Rp 64 triliun.

“Ada 20 investor yang datang langsung ke lokasi Forum Investment dan telah melakukan 32 Letter of Intent,” ujar Irfan.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa Kalimantan Selatan memiliki daya tarik investasi yang terus berkembang, terutama dengan dukungan sektor unggulan daerah serta potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Selain membuka peluang investasi, Pamor Borneo 2026 juga memberikan ruang lebih luas bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan mereka.

Sebanyak 50 pelaku usaha dari sektor kriya, fesyen, wastra, dan kuliner mendapatkan kesempatan memasarkan produk sekaligus memperluas jaringan pasar.

Hingga penutupan kegiatan, transaksi penjualan booth tercatat mencapai Rp 306 juta, sementara nilai business deal mencapai Rp 2,2 miliar. Selain itu, terdapat komitmen pembiayaan UMKM sebesar Rp 1,05 miliar sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan usaha lokal.

Tidak hanya mendorong transaksi konvensional, Pamor Borneo 2026 juga memperkuat agenda transformasi digital melalui penggunaan QRIS.

Tercatat lebih dari 1.300 transaksi QRIS terjadi selama kegiatan berlangsung. Selain itu, sekitar 800 pengunjung mendapatkan edukasi mengenai literasi keuangan dan pentingnya pemanfaatan layanan pembayaran digital.

Pamor Borneo 2026 memperlihatkan bahwa budaya dan ekonomi memiliki hubungan yang semakin erat.

Sasirangan tidak lagi hanya dipandang sebagai kain tradisional dengan nilai sejarah, tetapi juga sebagai produk kreatif yang memiliki peluang ekonomi ketika dikembangkan melalui inovasi, desain, pemasaran, dan digitalisasi.

Di sisi lain, QRIS menjadi jembatan yang membantu pelaku UMKM beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan transaksi digital.

Perpaduan antara wastra, UMKM, investasi, dan teknologi memperlihatkan arah baru pembangunan ekonomi daerah: menjaga identitas lokal sekaligus membuka akses menuju pasar yang lebih luas.

Bagi Kalimantan Selatan, Sasirangan adalah cerita tentang akar budaya. Sementara digitalisasi menjadi cara baru agar cerita itu terus bergerak dan menjangkau lebih banyak orang.

Dari sehelai kain yang dibuat melalui keterampilan tangan masyarakat Banua hingga transaksi ekonomi dalam satu sentuhan digital, Pamor Borneo 2026 menghadirkan pesan bahwa kekayaan lokal dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.