Mitigasi Bencana Jadi Kunci Keberlanjutan Destinasi Alam

oleh -129 views

Kalseltenginfo.com, Jakarta – Tren ekowisata yang kian diminati wisatawan, khususnya generasi muda, membuka peluang besar bagi pengembangan pariwisata Indonesia. Namun di balik potensi tersebut, kesiapan mitigasi bencana dinilai menjadi faktor penentu keberlanjutan destinasi wisata alam di Tanah Air.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Mitigasi Bencana di Destinasi Wisata Alam yang digelar Selasa (28/01/2026). Forum ini menyoroti pentingnya integrasi aspek keselamatan dan kesiapsiagaan bencana seiring meningkatnya minat wisata berbasis alam.

Gus Syafiq Sauqi, salah satu pembicara menilai lonjakan minat terhadap ekowisata tidak lepas dari perubahan pola hidup masyarakat modern.

“Di era banjir informasi seperti sekarang, manusia cepat lelah dan jenuh. Yang dicari bukan sekadar hiburan, tetapi ruang untuk kembali,kembali ke alam, ke ketenangan, dan ke pengalaman yang memulihkan,” ujarnya.

Fenomena tersebut tercermin dari meningkatnya arus wisatawan domestik dan mancanegara ke Indonesia. Selain wisatawan dari kawasan Oseania seperti Australia dan Selandia Baru, minat juga datang dari Tiongkok, Jepang, hingga Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadikan ekowisata sebagai peluang strategis sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi baru di sektor pariwisata.

Namun, peluang besar itu dinilai berisiko jika tidak diiringi dengan kesiapan mitigasi bencana. Aktivitas wisata alam seperti pendakian gunung, snorkeling, arung jeram, hingga pengembangan desa wisata berbasis alam memiliki potensi bahaya yang tidak bisa diabaikan.

“Keindahan alam saja tidak cukup. Tanpa perencanaan mitigasi bencana, pelatihan keselamatan, dan sumber daya manusia yang kompeten, satu insiden saja bisa merusak kepercayaan wisatawan,” tegasnya.

Seminar ini menghadirkan pelaku wisata M.Mukhidin atau Gus Udin dari Mojokerto serta H Mahdani Hamzah dari Center Tanggap Bencana, yang dikenal aktif dalam penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting untuk menjembatani kepentingan industri pariwisata dengan aspek keselamatan publik.

Forum tersebut juga mendorong lahirnya kerja sama konkret, mulai dari pembentukan komunitas, pelatihan pemandu wisata, hingga penyusunan standar mitigasi bencana di destinasi wisata alam. Langkah ini dinilai masih jarang digarap secara serius, padahal sangat krusial bagi daya saing pariwisata nasional.

Ketua Satkornas Banser, turut menyatakan komitmennya untuk terlibat aktif. Dengan jaringan kader yang tersebar di desa-desa, organisasi ini siap mendukung penguatan mitigasi bencana di kawasan wisata, khususnya di tingkat lokal.

Ke depan, integrasi antara ekowisata dan kesiapsiagaan bencana diyakini tidak hanya meningkatkan rasa aman wisatawan, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekonomi daerah.

“Pariwisata Indonesia harus dikenal bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena keamanannya,” tutupnya.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi, Muhammad Risanta, menyebutkan Indonesia memiliki kekayaan wisata alam yang luar biasa. Namun, topografi di wilayah yang rawan bencana. Gunung, sungai, pantai, dan hutan yang indah menyimpan potensi risiko seperti banjir, longsor, gempa bumi, hingga cuaca ekstrem. Karena itu, keselamatan harus menjadi bagian utama dari pengelolaan destinasi wisata alam.

Mitigasi bencana bukan untuk menakut-nakuti wisatawan, melainkan untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan. Wisatawan yang paham risiko akan lebih bijak, lebih tertib, dan lebih menghargai alam.

Di sisi lain, pengelola destinasi dituntut memiliki kesiapan, mulai dari perencanaan, sarana keselamatan, hingga kemampuan sumber daya manusia dalam menghadapi situasi darurat.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menumbuhkan kesadaran bersama bahwa edukasi kebencanaan adalah tanggung jawab semua pihak. Pemerintah, pengelola wisata, masyarakat lokal, dan wisatawan harus berjalan beriringan dalam menciptakan destinasi wisata alam yang aman dan tangguh,” jelas Pria yang merupakan Jurnalis Senior CNN Indonesia.

Dia pun berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tataran teori, tetapi dapat diterapkan secara nyata di lapangan. Dengan mitigasi yang baik, kita tidak hanya melindungi wisatawan, tetapi juga menjaga keberlanjutan destinasi dan kepercayaan publik terhadap pariwisata Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.