Jurnalis Apresiasi Program Pascatambang Adaro, Dinilai Ubah Cara Pandang Reklamasi Tambang

oleh -15 views

Kalseltenginfo.com, Balangan – Program pascatambang PT Adaro Indonesia mendapat apresiasi dari sejumlah jurnalis yang mengikuti Visite Jurnalis 2026 di kawasan operasional perusahaan di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Melalui pendekatan Ecological Green Belt (EGB) atau sabuk hijau ekologis, Adaro dinilai tidak lagi memandang reklamasi sekadar kewajiban administratif berupa penghijauan lahan bekas tambang, tetapi mulai bergerak menuju restorasi ekosistem berkelanjutan.

Jurnalis Sun FM, Subhan Wibisono, menilai publik perlu melihat isu pertambangan secara lebih objektif dan berbasis fakta lapangan.

Menurutnya, kritik terhadap industri tambang tetap penting, namun upaya pemulihan lingkungan juga harus mendapat ruang penilaian yang adil.

“Kalau bicara tambang, jangan hanya melihat apa yang diambil dari bumi, tetapi juga apa yang dikembalikan. Dari yang saya lihat, ada proses reklamasi dan restorasi yang dikerjakan serius. Vegetasi tumbuh, kawasan mulai pulih, dan fungsi ekologis perlahan dibangun kembali,” ujar pria yang akrab disapa Bani.

Ia menilai keberhasilan reklamasi harus diukur secara nyata, bukan sekadar visual kawasan yang tampak hijau.
Menurutnya, penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) Emas yang diraih Adaro selama beberapa periode menjadi indikator penting bahwa pemerintah pusat melihat adanya capaian lingkungan yang terukur.

“PROPER Emas bukan penghargaan simbolis. Ada audit, evaluasi, dan standar ketat pemerintah pusat. Artinya, ada upaya reklamasi dan pengelolaan lingkungan yang dianggap berhasil,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan jurnalis Barito Post, Gt Frieda Cintya, yang mengaku cukup terkesan melihat langsung transformasi kawasan pascatambang Adaro.

Ia menyebut, banyak masyarakat masih membayangkan kawasan bekas tambang sebagai ruang gersang yang sulit dipulihkan.

Namun fakta lapangan menunjukkan adanya upaya serius membangun kembali fungsi lingkungan.

“Saya melihat ini bukan sekadar menanam pohon. Ada proses pemulihan yang terencana, vegetasi tumbuh, habitat mulai terbentuk, dan kawasan perlahan hidup kembali. Ini menurut saya patut diapresiasi,” kata Frieda.

Menurutnya, publik perlu melihat persoalan lingkungan secara lebih jernih dan proporsional.
Kritik terhadap industri ekstraktif, kata dia, tetap penting, namun capaian pemulihan lingkungan juga harus diakui ketika ada bukti nyata di lapangan.

Melalui konsep Ecological Green Belt, Adaro membangun kawasan sabuk hijau ekologis sebagai zona penyangga lingkungan yang tidak hanya memperindah lanskap pascatambang, tetapi juga memulihkan fungsi tanah, menjaga kualitas air, mengurangi erosi, menyerap karbon, hingga menjadi koridor alami flora dan fauna.

Program tersebut menjadi bagian dari transformasi pendekatan reklamasi tambangdari sekadar penghijauan menuju pemulihan ekosistem ilmiah dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.