Babolang, Ketika Orang Banjar Menyematkan Kehormatan di Kepala Seorang Haji, Oleh : Helmi Rifai, SH, Pemimpin Umum Kalseltenginfo.com

oleh -38 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Setiap musim haji tiba, perhatian masyarakat Kalimantan Selatan selalu tertuju pada satu peristiwa yang sama, kepulangan para tamu Allah dari Tanah Suci. Bandara menjadi ramai. Jalan menuju kampung-kampung dipenuhi keluarga yang menanti. Tangis haru bercampur syukur. Anak-anak berlarian. Orang tua memeluk sanak saudara yang baru pulang dari perjalanan spiritual paling penting dalam hidup mereka.

Sebagai jurnalis yang sudah bertahun-tahun meliput berbagai peristiwa di Banua, saya selalu menemukan satu hal menarik setiap musim haji. Bukan hanya kisah perjalanan para jemaah atau angka-angka keberangkatan dan kepulangan yang menjadi berita. Ada satu warisan budaya yang diam-diam menyimpan cerita panjang tentang sejarah orang Banjar, yakni Babolang.

Saya masih ingat ketika kecil melihat beberapa perempuan tua di kampung mengenakan penutup kepala yang bentuknya berbeda dari biasanya. Bentuknya menyerupai sanggul besar yang dihiasi sulaman dan ornamen khas Banjar. Saat itu saya belum memahami maknanya. Saya hanya tahu orang-orang menyebut mereka dengan penuh hormat sebagai “Hajjah” atau “Haji”.

Baru bertahun-tahun kemudian, ketika menjalani profesi jurnalistik dan banyak berdiskusi dengan budayawan serta tokoh masyarakat, saya memahami bahwa benda yang saya lihat itu bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah simbol perjalanan sejarah yang panjang. Ia bernama Babolang.

Menariknya, sejarah Babolang hampir tidak banyak ditemukan dalam catatan tertulis. Sebagian besar hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Banjar. Tradisi ini diwariskan dari cerita ke cerita, dari generasi ke generasi. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Ia menjadi bukti bahwa budaya tidak selalu hidup dalam buku sejarah, tetapi sering kali bertahan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.

Untuk memahami Babolang, kita harus mundur jauh ke masa ketika perjalanan haji bukan semudah sekarang.

Hari ini, seseorang bisa terbang dari Banjarmasin menuju Arab Saudi dalam hitungan jam. Tetapi pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, perjalanan menuju Mekkah bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Calon haji berangkat menggunakan kapal laut. Mereka menghadapi badai, penyakit, keterbatasan logistik, dan berbagai risiko yang mengancam keselamatan.

Tidak sedikit yang meninggal dunia di tengah perjalanan. Tidak sedikit pula yang tidak pernah kembali ke kampung halaman.

Karena itu, ketika seseorang berhasil pulang setelah menunaikan ibadah haji, masyarakat memberikan penghormatan yang luar biasa. Mereka dianggap telah mencapai puncak perjalanan spiritual sekaligus keberhasilan hidup yang sangat langka pada masa itu.
Dalam konteks inilah saya melihat Babolang lahir.

Orang Banjar memiliki cara yang khas dalam menghormati keberhasilan spiritual tersebut. Mereka tidak hanya mengucapkan selamat, tetapi juga menciptakan simbol budaya yang mampu dikenali oleh masyarakat luas. Untuk laki-laki ada atribut khas haji yang melekat pada identitas mereka. Sedangkan bagi perempuan lahirlah Babolang sebagai simbol kehormatan seorang Hajjah.

Bagi saya, Babolang adalah contoh menarik bagaimana Islam dan budaya lokal berjalan berdampingan tanpa harus saling menghilangkan.

Sering kali kita melihat agama dan budaya diposisikan seolah berada di dua kutub yang berbeda. Padahal dalam sejarah Banjar, keduanya justru tumbuh bersama. Islam hadir membawa nilai-nilai universal, sementara masyarakat Banjar menerjemahkannya ke dalam simbol-simbol budaya yang dekat dengan kehidupan mereka.

Karena itu Babolang bukan simbol kemewahan. Ia adalah simbol rasa syukur, penghormatan dan keberhasilan menyempurnakan rukun Islam kelima.

Dan yang paling penting, ia adalah simbol pengakuan sosial bahwa seorang perempuan telah menempuh perjalanan spiritual yang luar biasa.

Saya sering mengatakan bahwa setiap budaya besar selalu memiliki “bahasa simbol”. Orang Banjar juga demikian.

Ketika seorang Hajjah mengenakan Babolang, masyarakat langsung memahami pesan yang disampaikan tanpa perlu penjelasan panjang. Simbol itu berbicara sendiri.

Ia mengatakan bahwa pemakainya telah pulang dari Baitullah dan pemakainya telah melewati perjalanan panjang penuh pengorbanan. Ia juga mengatakan bahwa pemakainya kini memikul tanggung jawab moral sebagai teladan di tengah masyarakat.

Tak heran jika tradisi penyambutan haji di Banjar juga begitu kaya makna. Ada Lawang Sakepeng yang menjadi gerbang penyambutan. Ada kain putih yang dihamparkan sebagai simbol kesucian. Ada tradisi menginjak uang logam yang dimaknai sebagai doa keberkahan. Ada pula lantunan shalawat dan tabuhan tarbang yang mengiringi langkah para jemaah menuju rumah.

Semua itu bukan sekadar seremoni dan dari kacamata saya adalah bahasa budaya. Bahasa yang digunakan masyarakat Banjar untuk mengekspresikan kegembiraan, rasa hormat, dan syukur kepada Allah SWT.

Namun sebagaimana banyak tradisi lain, Babolang kini menghadapi tantangan zaman.

Modernisasi membuat banyak simbol budaya perlahan bergeser. Jumlah pengrajin tradisional semakin sedikit. Generasi muda lebih akrab dengan budaya digital dibandingkan warisan leluhurnya. Bahkan tidak sedikit anak muda Banjar yang mungkin pernah mendengar nama Babolang tetapi belum memahami maknanya.

Sebagai insan media, saya memandang kondisi ini bukan sebagai alasan untuk pesimis. Budaya memang selalu berubah mengikuti zaman. Tetapi perubahan tidak berarti harus menghapus ingatan kolektif kita.

Babolang mungkin tidak lagi digunakan seluas dulu. Namun nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan. Nilai penghormatan terhadap ilmu agama, rasa syukur atas nikmat Allah, penghargaan terhadap perjuangan, serta kemampuan masyarakat Banjar memadukan Islam dan budaya lokal secara harmonis.

Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya harus diwariskan.
Ini adalah pengingat bahwa nenek moyang kita pernah membangun peradaban dengan cara yang santun, religius, dan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.