Pengurangan Dana Transfer ke Daerah (TKD) berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian daerah.

oleh -244 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Selain mempersempit ruang fiskal pemerintah daerah, kebijakan tersebut juga dapat menekan kinerja Bank Pembangunan Daerah (BPD), termasuk Bank Kalsel, yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan keuangan pemerintah daerah.

Pengamat sosial Noorhalis Majid menilai, tekanan akibat berkurangnya TKD perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Pasalnya, kebijakan fiskal tersebut tidak hanya berdampak pada belanja pemerintah, tetapi juga berpotensi memengaruhi likuiditas, aktivitas bisnis, dan pertumbuhan kredit perbankan daerah.

“Kalau pemerintah pusat ingin mendorong perekonomian daerah, termasuk mempertahankan BPD di seluruh Indonesia, dampak pengurangan TKD semestinya sudah diantisipasi. Apakah pemerintah pusat memahami pengaruh kebijakan ini terhadap BPD?” ujar Noorhalis saat menjawab pertanyaan wartawan, Selasa (3/11/2026).

Mantan Ketua KPU Kota Banjarmasin yang pernah menjabat Kepala Perwakilan Ombudsman selama dua periode itu mengingatkan, penurunan kinerja BPD tidak bisa dilepaskan dari perubahan kebijakan fiskal dan kondisi ekonomi yang lebih luas. Namun, Bank Kalsel juga tidak boleh menganggap dirinya aman dari tekanan tersebut.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi Bank Kalsel tidak sederhana dan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada manajemen. Kebijakan pemerintah pusat, kondisi ekonomi global, serta dinamika ekonomi daerah turut memengaruhi kinerja bank.

Meski demikian, situasi tersebut justru menuntut Bank Kalsel lebih adaptif, memperkuat strategi bisnis, dan melakukan pembenahan secara terukur.

Noorhalis menyampaikan tiga langkah strategis yang perlu dipertimbangkan untuk menjaga keberlangsungan sekaligus memperkuat daya tahan bank daerah.

Perkuat Ekonomi Lokal dan Diversifikasi Dana

Langkah pertama, mendorong perputaran ekonomi daerah dengan menempatkan Bank Kalsel sebagai salah satu penggerak aktivitas usaha. Bank daerah perlu memperluas kemitraan dengan pengusaha lokal melalui berbagai asosiasi dunia usaha, termasuk Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Selama ini, sumber dana Bank Kalsel dinilai masih banyak bertumpu pada kas pemerintah daerah. Karena itu, perputaran dana pemerintah semestinya tidak hanya menjadi sumber likuiditas perbankan, tetapi juga dapat diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi dan dunia usaha di daerah.

Di tengah tekanan terhadap dana pemerintah, penguatan basis nasabah nonpemerintah menjadi penting. Bank Kalsel perlu memperluas penghimpunan dana masyarakat dan memperkuat pembiayaan sektor produktif agar sumber pertumbuhan bisnis tidak terlalu bergantung pada keuangan pemerintah daerah.

Langkah kedua, melakukan evaluasi efisiensi secara menyeluruh terhadap pengeluaran perusahaan. Seluruh komponen belanja, termasuk gaji, bonus, dan biaya operasional lainnya, perlu ditinjau agar tetap rasional dan proporsional dengan kemampuan perusahaan.

“Jangan sampai terjadi lebih besar pasak daripada tiang. Beban pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi perusahaan,” tegasnya.

Menurut Noorhalis, efisiensi perlu dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan operasional dan kualitas layanan. Penghematan tidak semestinya mengabaikan kebutuhan strategis bank untuk menjaga daya saing dan mengembangkan bisnis.

Libatkan Pakar dan Pelaku Ekonomi

Langkah ketiga, memperluas partisipasi dalam merumuskan strategi penguatan Bank Kalsel. Noorhalis menilai, kompleksitas persoalan yang dihadapi bank daerah tidak cukup diselesaikan hanya melalui pemikiran internal perusahaan.

Bank Kalsel perlu membuka ruang bagi akademisi, pakar, dan pelaku ekonomi untuk memberikan masukan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan strategi yang lebih komprehensif dalam menghadapi tekanan fiskal dan perubahan lingkungan bisnis.

Ia menegaskan, masyarakat Kalimantan Selatan memiliki kepedulian terhadap keberadaan dan masa depan Bank Kalsel. Karena itu, kritik publik seharusnya tidak dipandang sebagai serangan, melainkan sebagai masukan untuk menjaga kesehatan dan keberlanjutan bank milik daerah tersebut.

“Yakinlah, semua warga Kalsel sangat cinta dan peduli terhadap keberadaan serta masa depan Bank Kalsel. Kalau pun ada kritik, itu merupakan bagian dari kepedulian untuk menyelamatkan Bank Kalsel dari kinerja buruk,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.