OJK : Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

oleh -43 views

Kalseltenginfo.com, Jakarta– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu oleh tekanan inflasi, gejolak geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan internasional.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Frederica Widyasari Dewi, usai Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 26 Mei 2026.

Menurut Frederica, konflik geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah menyebabkan harga energi global tetap berada pada level tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer), sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara.

“Di tengah berbagai tantangan global tersebut, perekonomian dunia masih menunjukkan ketahanan. Aktivitas manufaktur global masih berada dalam zona ekspansi meskipun pertumbuhannya mulai melambat,” ujar Frederica.

Ia menjelaskan, perekonomian Amerika Serikat masih relatif kuat dengan dukungan pasar tenaga kerja yang solid. Namun, tekanan inflasi mulai memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen. Sementara itu, di Tiongkok, momentum pertumbuhan ekonomi masih menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan domestik dan investasi, meskipun sektor ekspor masih mampu menopang pertumbuhan.

Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta mendorong volatilitas pasar keuangan, termasuk aliran modal ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Di dalam negeri, aktivitas ekonomi masih menunjukkan kinerja yang cukup baik. Dari sisi produksi, sektor manufaktur kembali mencatat ekspansi pada Mei 2026. Dari sisi permintaan, konsumsi domestik tetap terjaga meskipun inflasi mengalami peningkatan seiring kenaikan harga energi global.

“Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus, walaupun nilainya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan eksternal,” kata Frederica.

Pasar Modal Mengalami Konsolidasi

OJK mencatat pasar saham domestik mengalami fase konsolidasi sepanjang Mei 2026 di tengah tingginya ketidakpastian global dan penyesuaian portofolio investor.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.127,38 atau terkoreksi 11,92 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan turun 29,14 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd).

Meski demikian, Frederica menegaskan kondisi pasar modal Indonesia tetap menunjukkan tingkat ketahanan yang memadai dengan likuiditas yang masih terjaga.

“Rata-rata nilai transaksi harian justru meningkat menjadi Rp22,86 triliun dibandingkan Rp18,51 triliun pada April 2026. Ini menunjukkan aktivitas perdagangan masih berlangsung cukup baik,” ujarnya.

Investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham sebesar Rp4,10 triliun selama Mei 2026, meskipun lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp17,02 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 0,32 persen secara bulanan menjadi 437,26. Namun demikian, yield Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan rata-rata 5,61 basis poin akibat meningkatnya persepsi risiko global.

Investor Pasar Modal Tumbuh Pesat

Di tengah dinamika pasar, industri pengelolaan investasi tetap menunjukkan kinerja yang relatif terjaga.

Nilai Asset Under Management (AUM) industri pengelolaan investasi mencapai Rp1.049,84 triliun hingga akhir Mei 2026. Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp685,76 triliun.

OJK juga mencatat pertumbuhan signifikan jumlah investor pasar modal. Hingga Mei 2026, jumlah investor telah mencapai 27,75 juta atau meningkat 36,27 persen secara tahunan.

“Pertumbuhan investor yang terus berlanjut menunjukkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal serta kepercayaan terhadap instrumen investasi domestik,” ujar Frederica.

Sepanjang tahun 2026 hingga Mei, penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp68,18 triliun yang berasal dari berbagai instrumen seperti IPO, penawaran umum terbatas, obligasi, dan sukuk.

Kredit Perbankan Tumbuh Hampir 10 Persen

Dari sektor perbankan, OJK mencatat fungsi intermediasi terus berjalan positif dengan pertumbuhan kredit mencapai 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun pada April 2026.

Pertumbuhan tertinggi berasal dari Kredit Investasi yang meningkat 19,48 persen, disusul Kredit Konsumsi sebesar 6,13 persen dan Kredit Modal Kerja sebesar 6,04 persen.

Kredit korporasi tumbuh paling tinggi sebesar 15,51 persen, sementara kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan positif sebesar 0,16 persen.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun. Likuiditas perbankan juga tetap memadai dengan rasio AL/NCD sebesar 111,13 persen dan AL/DPK sebesar 25,39 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross sebesar 2,17 persen dan NPL net sebesar 0,84 persen.

Sementara itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada pada level 23,97 persen yang menunjukkan ketahanan permodalan industri perbankan nasional masih sangat kuat.

“Dengan berbagai indikator tersebut, OJK menilai sektor jasa keuangan Indonesia tetap berada dalam kondisi yang sehat, resilien, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih tinggi,” tutup Frederica

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.