Listrik Udah Padam, Air Ledeng Tetaplah Mengalir, Catatan Kecil tentang Keresahan Banua Menghadapi Krisis Energi dan Ancaman Lingkungan, Oleh : Helmi Rifai, SH

oleh -97 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin – Beberapa hari terakhir, suasana kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan terasa berbeda. Pemadaman listrik bergiliran yang terjadi siang dan malam bukan hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi perlahan menghadirkan keresahan baru tentang ketahanan infrastruktur dasar yang selama ini dianggap berjalan normal.

Ketika listrik padam, masyarakat tidak hanya kehilangan penerangan. Aktivitas ekonomi terganggu, usaha kecil harus berhitung ulang terhadap kerugian, peralatan elektronik berisiko mengalami kerusakan, jaringan komunikasi ikut terdampak, dan berbagai pelayanan yang bergantung pada sistem digital menghadapi hambatan.

Namun di balik persoalan listrik yang sedang menjadi perhatian publik, ada kegelisahan lain yang tidak kalah penting untuk dipikirkan, yakni bagaimana kondisi lingkungan Banua menghadapi musim kemarau yang semakin kering.

Pemadaman listrik yang terjadi bersamaan dengan musim panas membuat masyarakat semakin waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kebakaran kawasan permukiman. Kondisi tanah yang kering, vegetasi yang mudah terbakar, serta aktivitas manusia yang kurang berhati-hati dapat menjadi pemicu persoalan yang lebih besar apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Kita tentu tidak ingin pengalaman buruk kebakaran hutan dan lahan yang pernah terjadi kembali terulang. Asap yang mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat yang terganggu, serta kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan sesaat, tetapi meninggalkan dampak panjang bagi kehidupan.

Akan tetapi, ada satu hal lain yang juga perlu menjadi perhatian bersama adalah persoalan air.

Banjarmasin dan sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan selama ini dikenal sebagai daerah yang hidup berdampingan dengan sungai. Identitas sebagai kota seribu sungai bukan sekadar slogan, melainkan gambaran bahwa kehidupan masyarakat sangat bergantung pada keberadaan sumber daya air.

Masyarakat Banjar sejak dahulu mengenal air sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sungai menjadi jalur transportasi, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari budaya masyarakat.

Namun perubahan iklim dan kondisi lingkungan membawa tantangan baru.
Ketika musim kemarau semakin panjang, perubahan debit air sungai dapat memengaruhi kualitas bahan baku air. Ancaman intrusi air laut akibat naiknya permukaan air laut dan perubahan keseimbangan ekosistem pesisir juga menjadi persoalan yang harus diperhitungkan.

Jika kondisi tersebut terjadi, maka proses pengolahan air bersih oleh perusahaan daerah air minum tentu akan menghadapi tantangan lebih besar. Air baku yang berubah kualitasnya membutuhkan pengolahan lebih kompleks, biaya operasional meningkat, dan risiko gangguan pelayanan air bersih dapat terjadi.

Masyarakat mungkin masih bisa bertahan ketika listrik padam beberapa jam karena berharap jaringan segera pulih.
Tetapi bagaimana jika suatu hari air bersih yang mengalir dari keran mulai sulit didapat ?

Pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi menjadi pengingat bahwa energi dan air merupakan dua kebutuhan dasar yang saling berkaitan.

Listrik membutuhkan air dalam banyak proses pembangkitan energi. Pengelolaan air membutuhkan energi untuk proses pengolahan dan distribusi. Keduanya menjadi bagian dari sistem kehidupan modern yang tidak bisa dipisahkan.

Karena itu, persoalan pemadaman listrik hari ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai gangguan teknis yang selesai setelah mesin pembangkit kembali beroperasi. Lebih jauh dari itu, kejadian tersebut menjadi refleksi bahwa daerah membutuhkan perencanaan infrastruktur yang lebih kuat menghadapi berbagai risiko masa depan.

Banua membutuhkan sistem energi yang lebih andal.
Banua membutuhkan pengelolaan lingkungan yang lebih serius.
Banua membutuhkan kesadaran bersama bahwa sungai, hutan, dan sumber daya alam bukan sekadar aset ekonomi, tetapi penyangga kehidupan.

Ungkapan masyarakat Banjar “banyu kada bawayahan” selama ini menggambarkan kondisi air yang terus tersedia, tidak pernah habis, dan menjadi simbol keberlimpahan alam.

Namun ungkapan itu jangan sampai suatu hari hanya menjadi cerita masa lalu.

Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal kalimat tersebut sebagai kenangan tentang masa ketika air mudah didapat, sungai masih kuat menopang kehidupan, dan alam masih mampu memberikan keseimbangan.

Karena itu, ketika hari ini masyarakat sedang mengeluhkan listrik yang padam, kita juga perlu melihat persoalan yang lebih besar: bagaimana menjaga agar kebutuhan dasar manusia tetap tersedia dalam kondisi perubahan iklim yang semakin nyata.

Listrik boleh saja padam sementara.
Namun harapan agar air tetap mengalir tidak boleh ikut berhenti.

Sebab kehidupan masyarakat Banua tidak hanya membutuhkan cahaya untuk melihat jalan, tetapi juga membutuhkan air untuk memastikan perjalanan kehidupan tetap berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.