Kinerja Perbankan Tumbuh Solid, Likuiditas dan Risiko Tetap Terkendali

oleh -31 views

Kalseltenginfo.com, Jakarta – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa kinerja intermediasi perbankan nasional hingga Maret 2026 tetap menunjukkan tren positif dengan profil risiko yang terjaga.

“Di tengah tekanan global, sektor perbankan tetap berada dalam kondisi stabil, ditopang fondasi likuiditas dan permodalan yang kuat,” ujarnya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Secara rinci, kredit perbankan tercatat tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.659 triliun, meningkat dibandingkan Februari yang sebesar 9,37 persen. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh Kredit Investasi yang melonjak 20,85 persen, disusul Kredit Konsumsi sebesar 5,88 persen dan Kredit Modal Kerja sebesar 4,38 persen.

Dari sisi debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,88 persen yoy. Sementara itu, kredit UMKM mulai menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan positif 0,12 persen, berbalik dari kontraksi pada bulan sebelumnya. Kredit yang disalurkan oleh bank BUMN juga tumbuh signifikan sebesar 13,66 persen yoy.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan kuat sebesar 13,55 persen yoy menjadi Rp10.231 triliun. Pertumbuhan tertinggi berasal dari giro sebesar 21,37 persen, diikuti deposito 11,57 persen dan tabungan 8,36 persen.

Likuiditas industri perbankan tetap berada pada level yang sangat memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat 122,55 persen, sementara AL terhadap DPK sebesar 27,85 persen—keduanya jauh di atas ambang batas regulator. Indikator lainnya juga menunjukkan kondisi yang solid, dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 193,64 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 128,84 persen.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross tercatat sebesar 2,14 persen, dengan NPL net di level 0,83 persen. Sementara itu, Loan at Risk (LaR) menurun menjadi 8,94 persen, mencerminkan perbaikan profil risiko perbankan.

Kinerja profitabilitas juga menunjukkan peningkatan, tercermin dari Return on Assets (ROA) sebesar 2,47 persen. Adapun rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada di level 25,09 persen, menandakan kapasitas industri perbankan yang kuat dalam menyerap potensi risiko sekaligus mendukung ekspansi kredit.

BNPL Tumbuh Pesat, Risiko Tetap Terkendali

Produk kredit buy now pay later (BNPL) mencatat pertumbuhan signifikan, dengan baki debet mencapai Rp28,3 triliun atau tumbuh 24,20 persen yoy. Jumlah rekening BNPL juga meningkat menjadi 30,81 juta.

Meski demikian, Friderica menegaskan bahwa porsi BNPL terhadap total kredit masih relatif kecil, yakni 0,33 persen, sehingga risiko tetap berada dalam batas yang terkendali.

Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Diperkuat

Dalam aspek pengawasan, OJK terus memperketat penegakan ketentuan. Pada 7 April 2026, OJK mencabut izin usaha PT BPR Sungai Rumbai sebagai bagian dari upaya menjaga integritas industri perbankan.

Terkait kasus nasabah di Bank Negara Indonesia KCP Aek Nabara, seluruh pengembalian dana sebesar Rp28,25 miliar telah diselesaikan. OJK memastikan proses berjalan transparan serta meminta manajemen BNI melakukan investigasi internal secara menyeluruh, termasuk memperkuat aspek kepatuhan dan tata kelola.

Selain itu, dalam upaya menekan dampak judi online terhadap sistem keuangan, OJK telah meminta perbankan memblokir sekitar 33.252 rekening mencurigakan serta memperkuat proses enhanced due diligence.

Sektor PPDP Tumbuh Selektif, Permodalan Tetap Kuat

Pada sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP), total aset industri asuransi mencapai Rp1.195,75 triliun atau tumbuh 4,38 persen yoy. Aset asuransi komersial tercatat Rp977,53 triliun, naik 5,64 persen yoy.

Pendapatan premi industri mencapai Rp88,36 triliun. Premi asuransi jiwa mengalami kontraksi tipis 0,14 persen, sementara asuransi umum dan reasuransi tumbuh 1,77 persen. Meski demikian, tingkat permodalan tetap sangat kuat dengan Risk Based Capital (RBC) masing-masing 474,26 persen untuk asuransi jiwa dan 316,32 persen untuk asuransi umum—jauh di atas ketentuan minimum.

Industri dana pensiun juga mencatatkan pertumbuhan dengan total aset mencapai Rp1.684,89 triliun atau meningkat 10,49 persen yoy, didorong oleh program pensiun wajib yang tumbuh 11,76 persen.

Pengawasan Diperketat, Praktik Ilegal Ditindak

OJK terus memperkuat pengawasan dan penegakan hukum di sektor PPDP. Hingga akhir April 2026, sebanyak 16 lembaga jasa keuangan berada dalam pengawasan khusus, termasuk perusahaan asuransi dan dana pensiun.

Selain itu, OJK telah melakukan pemeriksaan terhadap enam entitas yang diduga menjalankan usaha pialang asuransi tanpa izin, serta mendalami 15 entitas lainnya. Sebagai langkah preventif, OJK tengah menyiapkan sistem verifikasi berbasis QR Code guna memastikan legalitas pialang bagi masyarakat.

Friderica menegaskan bahwa secara keseluruhan sektor perbankan Indonesia berada dalam kondisi solid, dengan intermediasi yang terus tumbuh, likuiditas yang longgar, serta risiko yang tetap terkendali.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa dinamika global masih penuh tantangan.

“Perbankan harus tetap waspada dan menjaga keseimbangan antara ekspansi dan manajemen risiko,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.