Mengantar Pulang Ramadhan, Oleh : Helmi Rifai, S.H.

oleh -170 views

Ramadan, akhirnya kita sampai di ujung jalanmu.

Seperti tamu agung yang datang dengan penuh kemuliaan, engkau hadir mengetuk hati dan mengajarkan sabar dalam lapar, ikhlas dalam diam, dan teduh dalam setiap sujud yang panjang. Tapi kini, langkahmu perlahan menjauh. Dan seperti setiap perpisahan, selalu ada yang tertinggal: rasa yang tak sempat selesai diucapkan.

Ada sunyi yang berbeda di penghujung Ramadan.

Masjid yang beberapa malam lalu penuh, kini mulai renggang. Lantunan ayat suci yang dulu begitu dekat di telinga, perlahan terasa menjauh. Kita berdiri di antara haru dan syukur,haru karena harus berpisah, syukur karena pernah dipertemukan.

Ramadan tidak sekadar bulan. Ia adalah cermin.

Di dalamnya kita melihat diri kita yang sebenarnya, yang sering lupa, yang sering lalai, namun juga yang masih punya harapan untuk kembali. Di bulan ini, kita belajar bahwa menahan lapar bukanlah inti, melainkan cara untuk menundukkan diri. Bahwa berbagi bukan sekadar memberi, tetapi tentang merasakan.

Dan kini, ketika Ramadan hendak pulang, kita seperti anak kecil yang belum rela ditinggalkan.

Ada tanya yang diam-diam muncul di dada apakah kita akan dipertemukan lagi tahun depan? Ataukah ini adalah Ramadan terakhir yang sempat kita peluk?

Maka doa-doa pun menjadi lebih lirih.

“Ya Allah, jangan jadikan ini Ramadan terakhir kami. Pertemukan kami kembali dengan bulan-Mu yang penuh rahmat.”

Namun, Ramadan tidak pernah benar-benar pergi.

Ia meninggalkan jejak di sajadah yang masih hangat, di mushaf yang mulai akrab disentuh, di tangan yang lebih ringan memberi, dan di hati yang sempat belajar lembut. Semua itu adalah titipan, bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijaga.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan, “Sebaik-baik amal adalah yang paling konsisten meski sedikit.” (HR. Muslim).

Di situlah letak ujian sesungguhnya.

Setelah Ramadan pergi, apakah kita tetap menjaga shalat di awal waktu? Apakah ayat-ayat yang kita baca akan tetap kita dekap? Apakah tangan yang terbiasa memberi akan tetap terbuka untuk sesama?

Ramadan mengajarkan kita berjalan. Kini, setelah ia pergi, kita diminta untuk terus melangkah meski tanpa suasana yang sama.

Sebab sejatinya, Ramadan bukanlah akhir. Ia adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang, sebuah perjalanan menjaga cahaya yang telah dinyalakan.

Amal-amal kecil, dzikir yang lirih, sedekah yang sederhana, doa yang tak terdengar, justru menjadi fondasi yang menguatkan. Di situlah letak keikhlasan diuji, bukan saat ramai, tetapi saat sepi.

Ramadan juga mengajarkan kita untuk peduli.

Kita belajar bahwa di luar sana, ada mereka yang menahan lapar bukan karena ibadah, tetapi karena keadaan. Kita belajar bahwa berbagi bukan pilihan, melainkan keharusan kemanusiaan. Dan pelajaran itu tak boleh berhenti hanya karena bulan telah berganti.

“Ramadan adalah awal transformasi, bukan akhir; jangan biarkan amal berhenti bersama berlalunya bulan suci.”

Kalimat itu seharusnya menjadi pengingat, bahwa apa yang telah kita bangun selama sebulan ini, jangan runtuh hanya dalam hitungan hari.

Kini, kita benar-benar berada di ambang perpisahan.

Ramadan bersiap pulang, dan kita hanya bisa mengantar dengan doa dan harapan. Seperti tamu yang kita cintai, kita tidak bisa menahannya, tapi kita bisa berjanji untuk menyambutnya kembali dengan keadaan yang lebih baik.

Jika kelak kita dipertemukan lagi, semoga kita datang bukan sebagai orang yang sama, tetapi sebagai jiwa yang telah tumbuh—lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada-Nya.

Selamat jalan, Ramadan.

Tinggalkan kami dengan cahaya-Mu,
dan izinkan kami menjaganya… sampai engkau kembali.

Penulis adalah Pimpinan Umum Media Kalseltenginfo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.