Gelombang Tinggi Tahan Operasi Underwater Cari Korban Virgo Transport 8

oleh -57 views

Kalseltenginfo.com, Banjarmasin — Harapan menemukan korban KM Virgo Transport 8 melalui operasi pencarian bawah air kembali tertahan. Cuaca buruk dan gelombang tinggi membuat tim SAR belum berani menurunkan penyelam ke lokasi kapal yang terbalik di perairan Laut Jawa.

Kepala Basarnas RI Mohammad Syafii mengatakan, operasi underwater yang semula dijadwalkan berlangsung Senin (14/9/2026) terpaksa ditunda. Kondisi laut dinilai belum aman bagi penyelam maupun peralatan yang akan digunakan dalam pencarian.

“Pelaksanaan operasi pada hari ini kita merencanakan untuk operasi underwater. Karena cuaca yang tidak memungkinkan, teman-teman yang sudah kita siapkan hari ini belum bisa kita turunkan karena memang kondisi cuaca,” ujar Syafii dalam konferensi pers, Senin malam.

Penundaan ini membuat pencarian korban masih harus mengandalkan operasi melalui permukaan laut dan udara. Basarnas mengerahkan 22 armada untuk menyisir wilayah yang menjadi lokasi terakhir KM Virgo Transport 8 melakukan kontak.

*OPERASI BAWAH AIR DITARGETKAN SELASA*

Basarnas belum membatalkan operasi underwater. Jika kondisi cuaca membaik, pencarian bawah air ditargetkan dapat dimulai Selasa (15/9/2026).

Operasi tersebut akan didukung Kapal Canopus milik TNI AL. Kapal ini memiliki sejumlah perangkat yang dapat digunakan untuk membantu pencarian objek di bawah permukaan laut, termasuk drone underwater dan multibeam echosounder.

“Operasi underwater dengan teknologi yang dimiliki Kapal Canopus, mulai drone underwater dan multibeam echosounder yang ada di dalam kapal tersebut,” kata Syafii.

Teknologi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi bawah laut di sekitar lokasi kapal, sekaligus membantu tim menentukan titik pencarian secara lebih terukur.

Namun, teknologi bukan satu-satunya penentu. Faktor keselamatan penyelam tetap menjadi prioritas sebelum operasi dilakukan.

*KOPASKA DAN BSG SIAP DITERJUNKAN*

Dua tim penyelam telah disiapkan untuk operasi bawah air. Mereka berasal dari Komando Pasukan Katak atau Kopaska TNI AL dan Basarnas Special Group atau BSG.

Sebelum masuk ke bawah permukaan laut, para penyelam harus melewati sejumlah pemeriksaan dan memastikan kondisi lingkungan benar-benar memungkinkan.

Pemeriksaan kesehatan, kondisi arus, hingga tingkat kekeruhan air menjadi bagian dari pertimbangan.

“Mulai dari cek kesehatan, bagaimana kondisi arus. Bahkan Laut Jawa ini lebih keruh, itu juga jadi pertimbangan operasi,” ujar Syafii.

Kondisi perairan yang keruh membuat pencarian secara visual menjadi semakin sulit. Karena itu, operasi bawah air membutuhkan kombinasi antara kemampuan penyelam dan dukungan teknologi agar pencarian dapat dilakukan secara aman dan efektif.

Bagi keluarga korban, penundaan operasi ini kembali memperpanjang penantian. Sementara tim SAR harus berhadapan dengan kondisi alam yang belum bersahabat, pencarian korban tetap dilakukan melalui jalur laut dan udara.

Basarnas memastikan operasi tidak berhenti. Seluruh potensi SAR terus dikerahkan sambil menunggu cuaca memungkinkan untuk membuka tahapan pencarian yang lebih dalam.

Operasi underwater kini tinggal menunggu satu syarat utama laut harus cukup aman untuk penyelam bekerja.

Sebab dalam operasi pencarian ini, menemukan korban adalah tujuan utama, tetapi keselamatan tim penyelamat tetap menjadi batas yang tidak boleh dilanggar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.