Dari Limbah Jadi BBM Pesawat

oleh -28 views

Kalsseltenginfo.com, Jakarta – Sesuatu yang selama ini dianggap limbah dan kerap mencemari lingkungan, kini mulai dilihat sebagai sumber energi masa depan. Minyak jelantah, sisa penggorengan rumah tangga dan industri makanan, perlahan berubah menjadi komoditas strategis dalam pengembangan bahan bakar ramah lingkungan untuk sektor penerbangan.

Melalui kolaborasi antara Pertamina dan Badan Gizi Nasional, minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) akan dikumpulkan dari berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar pesawat rendah emisi yang kini menjadi fokus dunia penerbangan global.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dunia, industri penerbangan menjadi salah satu sektor yang paling didorong untuk menekan emisi karbon. SAF pun muncul sebagai solusi penting karena mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dibanding bahan bakar avtur konvensional.

Yang menarik, bahan baku SAF tidak lagi hanya berasal dari sumber energi baru, tetapi juga limbah domestik seperti minyak jelantah yang sebelumnya sering dibuang sembarangan dan menjadi sumber pencemaran lingkungan.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menilai transformasi limbah menjadi energi merupakan bentuk nyata penerapan ekonomi sirkular.

“Kita jadikan limbah sebagai sumber daya. Kita ubah masalah menjadi solusi,” ujarnya dalam penandatanganan kerja sama pengembangan energi berkelanjutan di Jakarta.

Melalui program ini, pengumpulan minyak jelantah akan dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga menggunakan mesin UCollect yang ditempatkan di sejumlah titik layanan. Minyak yang terkumpul nantinya akan diproses menjadi bahan baku SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), hingga biogasoline.

Selain mendukung energi hijau, program tersebut juga membuka peluang ekonomi baru. Minyak jelantah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi tinggi kini berubah menjadi komoditas penting dalam rantai industri energi masa depan.

Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan SAF berbasis limbah domestik. Dengan jumlah penduduk besar dan tingginya konsumsi minyak goreng nasional, pasokan minyak jelantah dinilai sangat potensial untuk mendukung kebutuhan bahan baku energi alternatif.

Tak hanya berdampak pada sektor energi, pengembangan SAF juga dipandang mampu mendorong pertumbuhan industri hilir berbasis teknologi ramah lingkungan serta memperkuat posisi Indonesia dalam peta transisi energi global.

Di tengah tuntutan dunia terhadap energi rendah emisi, langkah mengubah limbah menjadi bahan bakar pesawat menjadi simbol perubahan besar: bahwa masa depan energi tidak selalu berasal dari sumber daya baru, tetapi juga dari kemampuan mengolah limbah menjadi solusi bernilai tinggi bagi lingkungan dan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.